Perajin gedhek (anyaman bambu) di Desa Ayamputih, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, tetap eksis di zaman yang semakin moderen. Bahkan perajin kerap kewalahan memenuhi banyaknya pesanan.
"Sampai dengan sekarang, kami masih yakin gedhek akan tetap dibutuhkan meski zaman sudah semakin moderen," ujar salah satu perajin, Rahman (28), yang tinggal di Dukuh Nayamertan di sela-sela kesibukannya membuat gedhek, Rabu (26/10).
Keyakinannya, kerena ia selalu mendapat pesanan dari pemasok gedhek. Menurut Rahman, gedhek saat ini lebih banyak dibutuhkan untuk membuat pagar, gudang, dan gubuk pekerja di lokasi proyek. Selain itu, dibutuhkan peternak ayam untuk membuat kandang.
Masyarakat juga masih banyak yang membutuhkan untuk interior rumah. Seperti untuk eternit. Selain itu, banyak rumah makan dan hotel yang ingin tampil 'kembali ke alam' dengan membangun gubuk dari gedhek. Gedhek yang dipesan secara khusus, ukuran maupun motif anyamannya sudah ditentukan pembeli.
Harganya tentu saja berbeda. Jika gedhek untuk proyek atau untuk kandang ayam, harganya Rp 35 ribu per lembar, namun gedhek pesanan khusus harganya dihitung per meter persegi. "Harga paling murah, Rp 20 ribu per meter," jelas Rahman yang biasa membuat motif anyaman menyan kobar dan jarit lerek.
Rahman mengaku kerap kewalahan diburu pamasok untuk memenuhi pesanan dalam jumlah banyak. Namun karena proses pembuatannya hanya dilakukan secara manual, Rahman tidak bisa memenuhi semua pesanan. "Dalam seminggu, rata-rata hanya bisa menghasilkan 5 lembar gedhek. Kalau lagi tidak ada kesibukan lain, sehari bisa satu lembar," ujar Rahman yang membutuhkan 1 batang bambu untuk membuat 1 lembar gedhek ukuran 2,5x2,25 meter. (Suk-KR)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
"Sampai dengan sekarang, kami masih yakin gedhek akan tetap dibutuhkan meski zaman sudah semakin moderen," ujar salah satu perajin, Rahman (28), yang tinggal di Dukuh Nayamertan di sela-sela kesibukannya membuat gedhek, Rabu (26/10).
Keyakinannya, kerena ia selalu mendapat pesanan dari pemasok gedhek. Menurut Rahman, gedhek saat ini lebih banyak dibutuhkan untuk membuat pagar, gudang, dan gubuk pekerja di lokasi proyek. Selain itu, dibutuhkan peternak ayam untuk membuat kandang.
Masyarakat juga masih banyak yang membutuhkan untuk interior rumah. Seperti untuk eternit. Selain itu, banyak rumah makan dan hotel yang ingin tampil 'kembali ke alam' dengan membangun gubuk dari gedhek. Gedhek yang dipesan secara khusus, ukuran maupun motif anyamannya sudah ditentukan pembeli.
Harganya tentu saja berbeda. Jika gedhek untuk proyek atau untuk kandang ayam, harganya Rp 35 ribu per lembar, namun gedhek pesanan khusus harganya dihitung per meter persegi. "Harga paling murah, Rp 20 ribu per meter," jelas Rahman yang biasa membuat motif anyaman menyan kobar dan jarit lerek.
Rahman mengaku kerap kewalahan diburu pamasok untuk memenuhi pesanan dalam jumlah banyak. Namun karena proses pembuatannya hanya dilakukan secara manual, Rahman tidak bisa memenuhi semua pesanan. "Dalam seminggu, rata-rata hanya bisa menghasilkan 5 lembar gedhek. Kalau lagi tidak ada kesibukan lain, sehari bisa satu lembar," ujar Rahman yang membutuhkan 1 batang bambu untuk membuat 1 lembar gedhek ukuran 2,5x2,25 meter. (Suk-KR)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!