40 Persen Bidan di Kebumen Belum Bersertifikat APN

Berbagai upaya dilakukan oleh Pemkab Kebumen melalui Dinas Kesehatan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Salah satunya dengan melaksanakan asuhan persalinan normal dan pencegahan komplikasi.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan dr Hj Rini Kristiani MKes menjelaskan, pihaknya terus meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) para bidan. Sebab sampai saat ini, baru 60% bidan di Kebumen telah memiliki sertifikat asuhan persalinan normal (APN). Artinya masih ada 40% bidan yang belum bersertifikat APN.

Dokter Rini menambahkan, sebagian besar persalinan di Kebumen telah ditangani oleh tenaga kesehatan. Sebanyak 87,5% ditangani oleh bidan, 11% ditangani dokter dan sisanya hanya 1,5% yang ditangani oleh dukun bayi.

"Jumlah bidan desa sudah mencukupi bahkan mencapai 106 %. Di desa-desa yang geografisnya sulit seperti di Kecamatan Sadang dan Karangsambung dalam satu desa ada yang ditempatkan dua bidan," ujar dr Hj Rini Kristiani MKes didampingi Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Khamidah SST kepada Suara Merdeka CyberNews, Rabu (26/10).

Dokter Rini menambahkan, upaya lain yang dilakukan Dinas Kesehatan ialah memberikan injeksi vitamin K pada 24 jam pertama, pencegahan profilaksis mata dengan pemberian anti biotik pada bayi. Selain itu meningkatkan cakupan kunjungan neonatus tiga kali sampai dengan usia 28 hari.

"Kunjungan neonatus untuk mendeteksi secara dini kamungkinan adanya tanda-tanda penyakit pada bayi sehingga bisa segera ditangani," imbuh dr Rini seraya menyebutkan lima imunisasi dasar juga diberikan sampai bayi berumur sembilan bulan.

Data di Dinas Kesehatan diketahui, angka kematian bayi (AKB) tahun 2010 mencapai 231 kasus atau 10,95 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan target tahun 2011 ini sebanyak 9,1 per 1000 kelahiran hidup. Adapun hingga Agustus 2011, terdapat 134 kasus AKB atau 9,68 per 1000 kelahiran hidup.

Sementara, sejumlah kecamatan yang tercatat memiliki AKB tertinggi yakni Karanggayam 8 kasus, kemudian Rowokele dan Kuwarasan 7 kasus, Petanahan 6 kasus, dan Kutowinangun 5 kasus. Kecamatan lain berada di bawah itu, bahkan ada kecamatan yang tidak terdapat AKB seperti di Bonorowo dan Sruweng. (Suaramerdeka)

=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

أحدث أقدم