KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Kondisi jembatan yang memotong Daerah Aliran Sungai (DAS) Luk Ulo, Kabupaten Kebumen perlu mendapat perhatian. Pasalnya, tingkat erosi tebing di sungai tersebut cukup mengkhawatirkan. Hal tersebut dikatakan Peneliti UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI Karang Sambung, Kebumen Eko Puswanto.
Dengan kondisi itu, Eko yang bersama peneliti lainnya mengkaji "Pengaruh Karakteristik DAS Luk Ulo Terhadap Kelayakan Jembatan: Studi Kasus Jembatan Sungai Gebang" menyebut secara umum kualitas jembatan di DAS tersebut berpotensi menurun.
"Terutama pada jembatan yang dibangun di atas dataran banjir pada segmen DAS Luk Ulo yang bermeander. Tingkat erosinya lebih intensif ke arah lateral, menggerus dan mengerosi tebing sungai
membentuk dataran banjir yang semakin meluas ke arah luar," katanya.
Segmen DAS Luk Ulo yang bermeandering atau berkelok tajam, salah satunya di sub DAS Gebang dari
tujuh sub DAS yang dimiliki Luk Ulo. Sub DAS itu dilewati Jembatan Gebang yang dinilai perlu mendapat perhatian tersendiri.
Diingatkan, Jembatan Gebang dengan panjang sekitar 25 meter dan lebar 6 meter, pernah mengalami longsor
pada kedua ujungnya dan memutus aksesibilitas warga Desa Wonotirto dan Kebakalan, Kecamatan
Karanggayam pada bulan Juli 2013.
"Jembatan ini terancam tererosi dan tergerus dari dua sisi laju aliran, tidak hanya Sungai Gebang yang bagian
hulunya sudah rusak parah namun juga tererosi intensif dari sisi sungai utamanya DAS Luk Ulo," katanya.
Eko tak memungkiri bahwa kelayakan jembatan merupakan satu hal yang kompleks. Namun faktor
dinamika sungai tak bisa diabaikan. Salah satunya kerapatan vegetasi pada bagian hulu Sungai Gebang
sangat kurang.
Tajuk-tajuk vegetasi yang berperan menahan laju aliran air permukaan tidak berjalan efektif. Akibatnya air hujan yang jatuh ke permukaan menjadi air limpasan yang mengerosi permukaan lahan dan tebing sungai dengan intensif.
Belum lagi, faktor aktivitas manusia memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kualitas jembatan
terkait daya dukung pondasi, yang teramati di sepanjang DAS Luk Ulo dan cabang anak sungainya.
"Aktivitas penambangan pasir di sana begitu intensif, bahkan menambang pasir dengan alat sedot," katanya.
Disebutkan, kegiatan itu menambah parah dinamika DAS Luk Ulo. Penegakan hukum terhadap oknum yang
melanggar izin usaha pertambangan dan aturan yang berlaku terkait hal tersebut harus diselesaikan dengan
tindakan tegas.
( Setiady Dwi / Suaramerdeka )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Dengan kondisi itu, Eko yang bersama peneliti lainnya mengkaji "Pengaruh Karakteristik DAS Luk Ulo Terhadap Kelayakan Jembatan: Studi Kasus Jembatan Sungai Gebang" menyebut secara umum kualitas jembatan di DAS tersebut berpotensi menurun.
"Terutama pada jembatan yang dibangun di atas dataran banjir pada segmen DAS Luk Ulo yang bermeander. Tingkat erosinya lebih intensif ke arah lateral, menggerus dan mengerosi tebing sungai
membentuk dataran banjir yang semakin meluas ke arah luar," katanya.
Segmen DAS Luk Ulo yang bermeandering atau berkelok tajam, salah satunya di sub DAS Gebang dari
tujuh sub DAS yang dimiliki Luk Ulo. Sub DAS itu dilewati Jembatan Gebang yang dinilai perlu mendapat perhatian tersendiri.
Diingatkan, Jembatan Gebang dengan panjang sekitar 25 meter dan lebar 6 meter, pernah mengalami longsor
pada kedua ujungnya dan memutus aksesibilitas warga Desa Wonotirto dan Kebakalan, Kecamatan
Karanggayam pada bulan Juli 2013.
"Jembatan ini terancam tererosi dan tergerus dari dua sisi laju aliran, tidak hanya Sungai Gebang yang bagian
hulunya sudah rusak parah namun juga tererosi intensif dari sisi sungai utamanya DAS Luk Ulo," katanya.
Eko tak memungkiri bahwa kelayakan jembatan merupakan satu hal yang kompleks. Namun faktor
dinamika sungai tak bisa diabaikan. Salah satunya kerapatan vegetasi pada bagian hulu Sungai Gebang
sangat kurang.
Tajuk-tajuk vegetasi yang berperan menahan laju aliran air permukaan tidak berjalan efektif. Akibatnya air hujan yang jatuh ke permukaan menjadi air limpasan yang mengerosi permukaan lahan dan tebing sungai dengan intensif.
Belum lagi, faktor aktivitas manusia memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kualitas jembatan
terkait daya dukung pondasi, yang teramati di sepanjang DAS Luk Ulo dan cabang anak sungainya.
"Aktivitas penambangan pasir di sana begitu intensif, bahkan menambang pasir dengan alat sedot," katanya.
Disebutkan, kegiatan itu menambah parah dinamika DAS Luk Ulo. Penegakan hukum terhadap oknum yang
melanggar izin usaha pertambangan dan aturan yang berlaku terkait hal tersebut harus diselesaikan dengan
tindakan tegas.
( Setiady Dwi / Suaramerdeka )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!