KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kebumen mencatat, selama 2013 sebanyak 1.209 warga Kebumen teridentifikasi mengidap gangguan kejiwaan. Jumlah itu terdiri atas 727 pasien laki-laki dan 442 perempuan. Faktor sosial ekonomi menjadi pemicu utama timbulnya gangguan jiwa. Penyebab lain seperti keturunan, lingkungan dan spiritual.
"Jumlah ini sangat mungkin bisa bertambah mengingat kasus gangguan kejiwaan masih menjadi fenomena gunung es. Artinya, jumlah riil di lapangan jauh lebih besar dari jumlah kasus yang ditemukan," ujar Kepala Seksi Upaya Kesehatan Dasar dan Rujukan pada Bidan Pelayanan Kesehatan, Dinkes Kebumen dr Sri Fatmawati, Kamis (2/1).
Selama setahun terakhir puluhan penderita gangguan jiwa dikirim ke RSJ Magelang untuk mendapat pengobatan. Termasuk mereka yang dipasung oleh keluarganya. Bagi warga tak mampu, dibiayai Jamkesmas maupun Jamkesda. Namun ada pula yang melakukan pengobatan secara mandiri.
Sri Fatmawati mengakui pengidap gangguan masih jiwa mendapat stigma negatif di masyarakat. Banyak warga malu jika ada anggota keluarganya mengidap gangguan jiwa, sehingga enggan melaporkan ke institusi kesehatan.
Kasus gangguan jiwa sangat kompleks sehingga perlu keterlibatan banyak pihak. Tidak cukup ditangani dari sisi medis saja, tapi juga dari aspek kebutuhan dasar manusia.
"Mau tak mau ini merupakan tanggung jawab semua pihak," tandasnya seraya menyebutkan masyarakat memiliki peran strategis untuk penyembuhan pasien penderita gangguan jiwa
( Supriyanto / Suaramerdeka )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
"Jumlah ini sangat mungkin bisa bertambah mengingat kasus gangguan kejiwaan masih menjadi fenomena gunung es. Artinya, jumlah riil di lapangan jauh lebih besar dari jumlah kasus yang ditemukan," ujar Kepala Seksi Upaya Kesehatan Dasar dan Rujukan pada Bidan Pelayanan Kesehatan, Dinkes Kebumen dr Sri Fatmawati, Kamis (2/1).
Selama setahun terakhir puluhan penderita gangguan jiwa dikirim ke RSJ Magelang untuk mendapat pengobatan. Termasuk mereka yang dipasung oleh keluarganya. Bagi warga tak mampu, dibiayai Jamkesmas maupun Jamkesda. Namun ada pula yang melakukan pengobatan secara mandiri.
Sri Fatmawati mengakui pengidap gangguan masih jiwa mendapat stigma negatif di masyarakat. Banyak warga malu jika ada anggota keluarganya mengidap gangguan jiwa, sehingga enggan melaporkan ke institusi kesehatan.
Kasus gangguan jiwa sangat kompleks sehingga perlu keterlibatan banyak pihak. Tidak cukup ditangani dari sisi medis saja, tapi juga dari aspek kebutuhan dasar manusia.
"Mau tak mau ini merupakan tanggung jawab semua pihak," tandasnya seraya menyebutkan masyarakat memiliki peran strategis untuk penyembuhan pasien penderita gangguan jiwa
( Supriyanto / Suaramerdeka )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!