KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Pasca revinsi harga gas elpiji 12 kilogram Pertamina, di Kabupaten Kebumen harga jual di tingkat pengecer ditetapkan sebesar Rp 95.300 per tabung. Namun kebijakan baru itu ternyata belum dipatuhi sepenuhnya oleh sejumlah pengecer elpiji 12 kilogram di Kebumen.
Pantauan koran ini Kamis (9/1), sejumlah pedagang elpiji eceran masih menjual elpiji 12 kilogram dengan harga Rp 120 ribu – Rp 130 ribu per tabung. Para pedagang berdalih, belum mau menurunkan harga dikarenakan saat kulakan masih dengan harga lama. Mereka enggan menelan kerugian lebih banyak jika harus menjual elpiji 12 kilogram dengan harga baru itu.
“Saya belinya masih mahal kemarin, sementara sampai stoknya habis dulu baru menjual dengan harga yang baru,” kata Bambang, pengecer elpiji di Gombong. Menurut dia, informasi penurunan harga gas elpiji 12 kilogram belum mampu meningkatkan permintaan gas tabung biru itu.
Lima tabung gas elpiji 12 kilogram di tokonya sejak kenaikan pada 1 Januari lalu hingga kini masih belum laku terjual. Padahal saat belum ada kenaikan dalam sehari dia mampu menjual rata-rata dua tabung. Pengecer lain, Hendro mengaku masih belum berani menyetok gas elpiji ukuran 12 kilogram dalam jumlah banyak. Pasalnya, permintaan gas elpiji non subsidi tersebut menurun drastis. Sedangkan, gas elpiji 3 kilogram selalu ludes terjual.
Sebelum kenaikan harga elpiji, Hendro mampu menjual enam elpiji 12 kilogram setiap harinya. Setelah harga turun, belum satupun pelanggan elpiji 12 kilogram yang datang membeli. “Kebanyakan konsumen belinya gas yang 3 kilogram,” ujar dia.
Mulai diterapkannya harga baru juga tidak serta merta membuat warga mau kembali lagi menggunakan gas elpiji 12 kilogram. Warga seolah dingin menanganggapi penurunan harga tersebut.
“Selisihnya masih cukup besar juga, lagian saya juga sudah menukar tabung yang 12 kilogram dengan yang 3 kilogram,” kata Titik, warga Kebumen, Kamis (9/1). Hal senada diungkapkan Sulastri, pedagang rumah makan. Dia mengatakan, meski harga gas elpiji 12 kilogram sudah diturunkan, dia tetap merasa masih mahal. Terlebih, dia tidak berani menaika harga makanan di warungnya karena takut ditinggal pelanggannya. “Kasian juga pembelinya kalau harganya dinaikan,” ujarnya.
Kasi Perlindungan Konsumen pada Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disperindagsar) Kabupaten Kebumen, Agung Patuh GA mengakui, masih ada pengecer yang menjual gas elpiji 12 kilogram melebihi harga yang telah ditetapkan. Dia meyakini, dalam waktu dekat gas elpiji non subsidi tersebut akan stabil.
“Kita himbau yang tadinya menggunakan elpiji 12 kilogram dan beralih ke yang 3 kilogram, agar kembali menggunakan yang 12 kilogram. Karena yang 3 kilogram itu khusus untuk warga berpenghasilan di bawah Rp 1,5 juta per bulan,” pintanya.(ori/din/radarbanyumas.co.id)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Pantauan koran ini Kamis (9/1), sejumlah pedagang elpiji eceran masih menjual elpiji 12 kilogram dengan harga Rp 120 ribu – Rp 130 ribu per tabung. Para pedagang berdalih, belum mau menurunkan harga dikarenakan saat kulakan masih dengan harga lama. Mereka enggan menelan kerugian lebih banyak jika harus menjual elpiji 12 kilogram dengan harga baru itu.
“Saya belinya masih mahal kemarin, sementara sampai stoknya habis dulu baru menjual dengan harga yang baru,” kata Bambang, pengecer elpiji di Gombong. Menurut dia, informasi penurunan harga gas elpiji 12 kilogram belum mampu meningkatkan permintaan gas tabung biru itu.
Lima tabung gas elpiji 12 kilogram di tokonya sejak kenaikan pada 1 Januari lalu hingga kini masih belum laku terjual. Padahal saat belum ada kenaikan dalam sehari dia mampu menjual rata-rata dua tabung. Pengecer lain, Hendro mengaku masih belum berani menyetok gas elpiji ukuran 12 kilogram dalam jumlah banyak. Pasalnya, permintaan gas elpiji non subsidi tersebut menurun drastis. Sedangkan, gas elpiji 3 kilogram selalu ludes terjual.
Sebelum kenaikan harga elpiji, Hendro mampu menjual enam elpiji 12 kilogram setiap harinya. Setelah harga turun, belum satupun pelanggan elpiji 12 kilogram yang datang membeli. “Kebanyakan konsumen belinya gas yang 3 kilogram,” ujar dia.
Mulai diterapkannya harga baru juga tidak serta merta membuat warga mau kembali lagi menggunakan gas elpiji 12 kilogram. Warga seolah dingin menanganggapi penurunan harga tersebut.
“Selisihnya masih cukup besar juga, lagian saya juga sudah menukar tabung yang 12 kilogram dengan yang 3 kilogram,” kata Titik, warga Kebumen, Kamis (9/1). Hal senada diungkapkan Sulastri, pedagang rumah makan. Dia mengatakan, meski harga gas elpiji 12 kilogram sudah diturunkan, dia tetap merasa masih mahal. Terlebih, dia tidak berani menaika harga makanan di warungnya karena takut ditinggal pelanggannya. “Kasian juga pembelinya kalau harganya dinaikan,” ujarnya.
Kasi Perlindungan Konsumen pada Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disperindagsar) Kabupaten Kebumen, Agung Patuh GA mengakui, masih ada pengecer yang menjual gas elpiji 12 kilogram melebihi harga yang telah ditetapkan. Dia meyakini, dalam waktu dekat gas elpiji non subsidi tersebut akan stabil.
“Kita himbau yang tadinya menggunakan elpiji 12 kilogram dan beralih ke yang 3 kilogram, agar kembali menggunakan yang 12 kilogram. Karena yang 3 kilogram itu khusus untuk warga berpenghasilan di bawah Rp 1,5 juta per bulan,” pintanya.(ori/din/radarbanyumas.co.id)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!