| Rubuha dibuat untuk bersarang dan tempat bertengger burung hantu saat mengincar tikus. (FOTO: Sukmawan) |
"Pemberantasan tikus harus serentak sebelum tanam. Harus kompak karena pemberantasan tikus akan efektif jika dilakukan serentak. Salah satunya dengan memberi umpan beracun begitu lahan yang sudah diolah tergenang air," jelas Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen, Ir Machasin, Jumat (15/11/2013).
Hama tikus menjadi perhatian karena jumlah anak tikus dari seekor induk betina bisa mencapai 80 ekor dalam satu musim tanam.
Pemberantasan diakui harus dilakukan petani karena ular sebagai musuh alami tikus, populasinya sudah sangat sedikit. "Larangan menangkap ular sepertinya sudah perlu diberlakukan untuk mengendalikan populasi tikus yang sangat cepat," kata Machasin.
Di Kabupaten Kebumen, lanjut Machasin, pengendalian populasi tikus dengan memanfaat musuh alami, sudah dilakukan dengan burung hantu.
"Jumlah rumah burung hantu atau rubuha di sawah yang dibuat petani terus bertambah jumlahnya. Meski tidak semua digunakan untuk bersarang, namun keberadaan rubuha diperlukan burung hantu untuk tempat bertengger saat mengincar mangsa," terangnya. (Suk/krjogja.com)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!