KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Selama Lebaran diprediksi jumlah perputaran uang di wilayah Kabupaten Kebumen mencapai angka ratusan miliar rupiah. Perputaran uang ini sebagian besar disumbangkan oleh para pekerja dari luar daerah yang pulang kampung dan membelanjakan penghasilannya di Kebumen. Perkiraan tersebut muncul dari beberapa perilaku masyarakat yang diketahui saat Lebaran.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kebumen Drs H Sabar Irianto mengatakan, tradisi mudik Lebaran merupakan suntikan bagi perekonomian daerah. Menurut dia, melihat dampak terhadap perekonomian di Kebumen dari para perantau yang mudik itu, di antaranya pada transaksi di warung-warung, pasar ketika mereka berbelanja, penginapan dan objek wisata.
“Tradisi mudik Lebaran itu, mampu menggerakkan perekonomian di Kebumen, karena perputaran uang dalam kurun waktu sekitar sebulan relatif tinggi,” kata Sabar Irianto usai mengikuti Rapat di DPRD Kebumen, Rabu (31/7).
Selama libur lebaran, kata dia, terjadi distribusi pendapatan dalam jumlah yang cukup besar, makanya Pemkab harus bisa membuat perantau bisa berbelanja lebih banyak.
Selain itu, tak kalah pentingnya uang yang mengalir ke daerah dari para pemudik tersebut, semestinya harus tertahan di desa dalam artian masyarakat tidak konsumtif.
“Dana yang banyak diperoleh masyarakat dari perantau, sebaiknya dapat menjadi suntikan modal untuk usaha yang produktif,” ujarnya.
Misalnya, mengembangkan usaha berternak sapi atau budidaya perikanan serta berdagang dan lainnya, tapi bukan untuk konsumtif membeli kendaraan sepeda motor dan berbelanja perlengkapan rumah tangga lainnya.
Jika untuk kebutuhan konsumtif oleh masyarakat, tambahnya, makanya dana yang mengalir dari perantau setiap tahunnya perputarannya lari keluar desa tersebut, tentu dampaknya tidak akan terlihat.
“Tradisi mudik merupakan fenomena ekonomi berulang setiap tahunnya dan sesuatu yang bagus, karena dinilai kehidupan orang di kota lebih baik dari masyarakat desa,” ujarnya.
Sebab, setiap perantau yang mudik ke kampung halamannya jelas membawa uang dan barang-barang yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan jumlah tidak sedikit. Sayangnya, Pemkab Kebumen tidak memiliki data pasti perpuataran uang dan jumlah pemudik yang mudik ke Kebumen saat lebaran.
Sementara itu, Penasehat Pawiyatan Kebumenan MT Arifin SU menyatakan, para perantau yang mudik memiliki berbagai latarbelakang profesi dan usaha, peluang ini harus dimanfaatkan untuk menawarkan investasi terhadap potensi yang ada di Kebumen.
Menurut dia, ketika perantau mudik ke Kebumen bukan hanya sekadar mengharapkan sumbangan atau bantuan untuk membangun infrastruktur ibadah dan sosial lainnya. Namun, bagaimana pemkab mempersiapkan penawaran investasi yang dapat menjadi daya tarik bagi perantau untuk menanamkan modalnya. Sebab, tak semuanya perantau yang mengenal lebih dalam tentang potensi daerah atau kampung halamannya, makanya perlu diekspos saat mereka mudik.
“Kalau ada perantau yang investasi, jelas memberi dampak pergerakan ekonomi secara berkelanjutan jangka panjang dan membuka lapangan pekerjaan di daerah,” ujarnya.
Kemudian tradisi mudik, juga ada dampak pendidikannya karena pengalaman orang rantau suatu yang menarik didengarkan bagi generasi di kampung. Hal itu, tentunya dapat menjadi motivasi bagi generasi yang ada di kampung untuk dapat giat belajar dan dapat pula merantau jadi sukses.
“Selain itu, mereka adalah orang-orang yang kangen terhadap kampung halamannya. Harusnya ada penyambutan khusus untuk mereka, misalnya dengan mengadakan pesta rakyat yang diisi berbagai kesenian tradisional. Saya yakin mereka juga rindu akan hal itu,” ujarnya. (ori/radarbanyumas.co.id)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kebumen Drs H Sabar Irianto mengatakan, tradisi mudik Lebaran merupakan suntikan bagi perekonomian daerah. Menurut dia, melihat dampak terhadap perekonomian di Kebumen dari para perantau yang mudik itu, di antaranya pada transaksi di warung-warung, pasar ketika mereka berbelanja, penginapan dan objek wisata.
“Tradisi mudik Lebaran itu, mampu menggerakkan perekonomian di Kebumen, karena perputaran uang dalam kurun waktu sekitar sebulan relatif tinggi,” kata Sabar Irianto usai mengikuti Rapat di DPRD Kebumen, Rabu (31/7).
Selama libur lebaran, kata dia, terjadi distribusi pendapatan dalam jumlah yang cukup besar, makanya Pemkab harus bisa membuat perantau bisa berbelanja lebih banyak.
Selain itu, tak kalah pentingnya uang yang mengalir ke daerah dari para pemudik tersebut, semestinya harus tertahan di desa dalam artian masyarakat tidak konsumtif.
“Dana yang banyak diperoleh masyarakat dari perantau, sebaiknya dapat menjadi suntikan modal untuk usaha yang produktif,” ujarnya.
Misalnya, mengembangkan usaha berternak sapi atau budidaya perikanan serta berdagang dan lainnya, tapi bukan untuk konsumtif membeli kendaraan sepeda motor dan berbelanja perlengkapan rumah tangga lainnya.
Jika untuk kebutuhan konsumtif oleh masyarakat, tambahnya, makanya dana yang mengalir dari perantau setiap tahunnya perputarannya lari keluar desa tersebut, tentu dampaknya tidak akan terlihat.
“Tradisi mudik merupakan fenomena ekonomi berulang setiap tahunnya dan sesuatu yang bagus, karena dinilai kehidupan orang di kota lebih baik dari masyarakat desa,” ujarnya.
Sebab, setiap perantau yang mudik ke kampung halamannya jelas membawa uang dan barang-barang yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan jumlah tidak sedikit. Sayangnya, Pemkab Kebumen tidak memiliki data pasti perpuataran uang dan jumlah pemudik yang mudik ke Kebumen saat lebaran.
Sementara itu, Penasehat Pawiyatan Kebumenan MT Arifin SU menyatakan, para perantau yang mudik memiliki berbagai latarbelakang profesi dan usaha, peluang ini harus dimanfaatkan untuk menawarkan investasi terhadap potensi yang ada di Kebumen.
Menurut dia, ketika perantau mudik ke Kebumen bukan hanya sekadar mengharapkan sumbangan atau bantuan untuk membangun infrastruktur ibadah dan sosial lainnya. Namun, bagaimana pemkab mempersiapkan penawaran investasi yang dapat menjadi daya tarik bagi perantau untuk menanamkan modalnya. Sebab, tak semuanya perantau yang mengenal lebih dalam tentang potensi daerah atau kampung halamannya, makanya perlu diekspos saat mereka mudik.
“Kalau ada perantau yang investasi, jelas memberi dampak pergerakan ekonomi secara berkelanjutan jangka panjang dan membuka lapangan pekerjaan di daerah,” ujarnya.
Kemudian tradisi mudik, juga ada dampak pendidikannya karena pengalaman orang rantau suatu yang menarik didengarkan bagi generasi di kampung. Hal itu, tentunya dapat menjadi motivasi bagi generasi yang ada di kampung untuk dapat giat belajar dan dapat pula merantau jadi sukses.
“Selain itu, mereka adalah orang-orang yang kangen terhadap kampung halamannya. Harusnya ada penyambutan khusus untuk mereka, misalnya dengan mengadakan pesta rakyat yang diisi berbagai kesenian tradisional. Saya yakin mereka juga rindu akan hal itu,” ujarnya. (ori/radarbanyumas.co.id)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!