Pacuan Kuda Meriahkan Lebaran di Ambal

AMBAL (www.beritakebumen.info) - Merayakan hari ketujuh Lebaran Idul Fitri dengan even final pacuankuda sudah jadi tradisi tahunan masyarakat Kecamatan Ambal Kebumen. Seperti yang digelarRabu (14/08/2013), di lapangan Desa Ambalresmi Kecamatan Ambal. Lomba yang diikuti kuda balap berbagai daerah di Pulau Jawa kini telah jadi 'klangenan' bagi warga Ambal.

" Tradisi ini dimulai sejak 1957 lalu dan menjadi momen yang ditunggu-tunggu warga Ambal setiap merayakan Idul Fitri. Warga merasa kurang lengkap bila berlebaran tanpa kemeriahan even ini," papar Humas Panitia Pacuan Kuda Ambal 2013, Agus Riyanto, di lokasi lomba, Rabu (14/08/2013).

Tradisi yang lahir dari latar belakang masyarakat Ambal yang memang gemar beternak kuda sejak jauh-jauh hari sebelum tradisi itu dimulai, menurut Agus selalu diupayakan untuk dilestarikan oleh masyarakat Ambal dengan dukungan Persatuan Olah Raga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kebumen. Setiap even ini digelar, antusias warga untuk menyaksikan sejak penyisihan hingga final, membludak.

" Bayangkan, saat harga karcis Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu perlembar kami bisa meraup pemasukan dari penjualan karcis sampai Rp 70 juta lebih. Berarti memang penonton yang datang sangat banyak. Sedangkan tahun ini karcis dijual Rp 15 ribu perlembar, ternyata antusias warga untuk menonton sejak hari pertama sampai hari terakhir tak pernah surut," jelas Agus.

Even pacuan kuda Ambal tahun 2013, mulai digelar Senin (11/08/2013) sampai Rabu (14/08/2013). Diikuti oleh 73 ekor kuda pacu dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY. Kejuaraan terbagi dalam 10 kelas, mulai kelas pemula, lokal asli, pra derbi, derbi, sprint sampai terbuka. Untuk mengiringi kemeriahan tradisi pacuan kuda itu, digelar pula pasar malam dengan aneka atraksi di lapangan kecil yang berada di dekat tempat pacuan. Secara ekonomi selain menguntungkan para pedagang tiban, even ini pun menguntungkan warga yang menyewakan halaman rumahnya untuk menginap kuda-kuda peserta. (Dwi)



=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

2 Comments

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

  1. KUDA PETANI PETERNAK INDONESIA (KPPI). Perencanaan Pordasi tahun 1975 untuk mewujudkan rumpun baru kuda Indonesia (KPI=Kuda Pacu Indonesia) sekarang sudah terwujud tahun 2013. Pelopor KPI Pamulang & Stud Stable. "Tidak Ada gading yang Tidak Retak", 38 tahun pemulian Kuda Pacu Indonesia. Pada tahun-tahun terakhir ini di beberapa daerah sentra peternakan kuda, seperti Aceh, Sumut, Sumbar, Sulut, NTB dan NTT (terutama diluar pulau Jawa) mengalami kelangkaan Pejantan Thoroughred karena tidak ada lagi Program PP Pordasi untuk bantuan Pejantan dari Pemerintah RI. Pejantan Thoroughbred yang ada sekarang ini relatif milik peternakan swasta dengan mahar kawin minimal Rp. 5juta. Bagi sebagian peternak kuda yang mampu itu bisa dibayarkan, hanya banyak pemilik induk kuda dari sais dokar atau bendi, dimana harga tersebut sangat memberatkan petani peternak kuda bendi. Seperti kita ketahui bagi sais bendi memiliki induk kuda G2 sudah sangat istimewa, untuk mencapai G3 mereka dikatakan tidak sanggup membayar mahar kawin. Alternatif lain sudah dilakukan tokoh berkuda lokal dengan mengawinkan kuda betina G2 atau G1 dengan kuda jantan G2, G3, G4 bahkan G5. Permasalahan yang timbul jika induk kuda G2/G1 dikawinkan dengan G2-G5 anakanya tidak diakui PP Pordasi untuk berpacu di tingkat Nasional (Kejurnas Tahunan PP Pordasi)atau hanya bisa berpacu di kejuaraan non kejurnas (Pacu Bulanan Pulo Mas atau daerah). Suatu pemikiran Bagi kita terutama masa kepemimpinan bapak Moch. Eddy Sadack untuk dapat sesegera merelisasikan pemikiran yang sudah lama terkatung supaya semua jenis keturunan kuda Indonesia bisa berpacu di tingkat Nasional (Kecuali anakan THB vs KPPI). Apapun jenis nama kuda di BRK nantinya, itu tidak problem. Kebanggaan kita, jika ini terwujud, dimasa mendatang Indonesia akan melimpah banyak kuda petani. katakan saat itu, inilah "Kuda Petani Peternak Indinesia!!!". Keyakinan kami di Sumbar, jika ini terealisasi, Payakumbuh akan menghasilkan kelahiran minimal 80 ekor anak kuda setiap tahun. 4 tahun mendatang akan kita lihat "Kuda Petani Peternak Indonesia" berpacu di Pulo Mas Jakarta. Terimakasih, Aguspen Adnan

    ReplyDelete
  2. KUDA PETANI PETERNAK INDONESIA (KPPI). Perencanaan Pordasi tahun 1975 untuk mewujudkan rumpun baru kuda Indonesia (KPI=Kuda Pacu Indonesia) sekarang sudah terwujud tahun 2013. Pelopor KPI Pamulang & Stud Stable. "Tidak Ada gading yang Tidak Retak", 38 tahun pemulian Kuda Pacu Indonesia. Pada tahun-tahun terakhir ini di beberapa daerah sentra peternakan kuda, seperti Aceh, Sumut, Sumbar, Sulut, NTB dan NTT (terutama diluar pulau Jawa) mengalami kelangkaan Pejantan Thoroughred karena tidak ada lagi Program PP Pordasi untuk bantuan Pejantan dari Pemerintah RI. Pejantan Thoroughbred yang ada sekarang ini relatif milik peternakan swasta dengan mahar kawin minimal Rp. 5juta. Bagi sebagian peternak kuda yang mampu itu bisa dibayarkan, hanya banyak pemilik induk kuda dari sais dokar atau bendi, dimana harga tersebut sangat memberatkan petani peternak kuda bendi. Seperti kita ketahui bagi sais bendi memiliki induk kuda G2 sudah sangat istimewa, untuk mencapai G3 mereka dikatakan tidak sanggup membayar mahar kawin. Alternatif lain sudah dilakukan tokoh berkuda lokal dengan mengawinkan kuda betina G2 atau G1 dengan kuda jantan G2, G3, G4 bahkan G5. Permasalahan yang timbul jika induk kuda G2/G1 dikawinkan dengan G2-G5 anakanya tidak diakui PP Pordasi untuk berpacu di tingkat Nasional (Kejurnas Tahunan PP Pordasi)atau hanya bisa berpacu di kejuaraan non kejurnas (Pacu Bulanan Pulo Mas atau daerah). Suatu pemikiran Bagi kita terutama masa kepemimpinan bapak Moch. Eddy Sadack untuk dapat sesegera merelisasikan pemikiran yang sudah lama terkatung supaya semua jenis keturunan kuda Indonesia bisa berpacu di tingkat Nasional (Kecuali anakan THB vs KPPI). Apapun jenis nama kuda di BRK nantinya, itu tidak problem. Kebanggaan kita, jika ini terwujud, dimasa mendatang Indonesia akan melimpah banyak kuda petani. katakan saat itu, inilah "Kuda Petani Peternak Indinesia!!!". Keyakinan kami di Sumbar, jika ini terealisasi, Payakumbuh akan menghasilkan kelahiran minimal 80 ekor anak kuda setiap tahun. 4 tahun mendatang akan kita lihat "Kuda Petani Peternak Indonesia" berpacu di Pulo Mas Jakarta. Terimakasih, Aguspen Adnan

    ReplyDelete

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Previous Post Next Post