AYAH (www.beritakebumen.info) - Rukun Nelayan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasir Kecamatan Ayah menyatakan rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan berimbas terhadap pengeluaran nelayan dan jumlah pasokan ikan ke pasar. Pasalnya, porsi terbesar dari pengeluaran nelayan adalah ongkos pembelian BBM kapal untuk melaut.
Kenaikan harga akan memberatkan nelayan karena seringkali hasil tangkapan di laut tidak bisa menutup biaya pembelian bensin sebagai bahan bakar perahu.
Sekretaris Rukun Nelayan TPI Pasir, Sarno (43) mengungkapkan, adanya rencana kenaikan harga BBM membuat nelayan di wilayahnya merasa kebingungan. Dengan harga bensin saat ini Rp 4.500 per liter saja seringkali para nelayan merugi saat melaut. Terlebih harga bensin di TPI Pasir dijual diatas harga normal, yakni Rp 6.000 per liternya.
Menurutnya, dengan perahu jungkung, biaya operasional untuk membeli bensin dan bekal melaut selama setengah hari baru bisa impas bila mendapat hasil Rp 300 ribu. Namun seringkali hasil yang didapat kurang dari itu, terutama untuk masa-masa paceklik seperti saat ini, sehingga para nelayan merugi.
“Adanya rencana kenaikan harga BBM kami warga masyarakat kecil, khususnya nelayan imbasnya luar biasa. tidak habis pikir mengapa nasib kami yang pendapatannya paling kecil masih harus dibebani lagi,” kata Sarno, Kamis (20/6).
Sarno mengungkapkan, saat ini kondisi nelayan di Pantai Pasir memasuki musim paceklik sejak April lalu. Biasanya musim paceklik akan berakhir pada awal Agustus. Dia menyayangkan dengan keputusan pemerintah pusat yang akan segera menaikan harga BBM bersubsidi, sehingga akan lebih membuat nelayan menderita.
“Kami sudah tiga bulan tidak melaut karena faktor musim paceklik. Nggak ada ikan, kami sudah kesusahan karena tidak ada pemasukan. Ditambah lagi bensin mau naik, ini sudah pasti memberatkan kami,” keluhnya.
Sarno menambahkan, untuk sekali melaut nelayan sedikitnya membutuhkan BBM antara 20-30 liter. Sedangkan biaya untuk operasional sekali melaut antara Rp 250 ribu – Rp 300 ribu, itu sudah termasuk biaya makan dan “Tagog”, pekerja yang membantu mengangkut perahu kedaratan.
“Walaupun bensinnya naik, harga ikan tidak serta merta ikut naik. Harga ikan itu tergantung pada pasar, kalau lagi ramai harganya ya naik. Tapi kalau lagi sepi yang murah,” beber pria yang menjabat Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Karangbolong, Kecamatan Buayan ini.
Pada musim paceklik seperti saat ini, dia bersama 800 nelayan di TPI Pasir beralih profesi. Dia mengatakan, ada nelayan yang beralih profesi menjadi penderes, kerja bangunan, sebagian lagi ada yeng merantau ke luar daerah. Setelah musim paceklik usai, mereka pun kembali melaut.
Bahkan tak sedikit nelayan yang terpaksa berhutang untuk biaya sehari-hari. Bagi nelayan yang rajin menabung saat musim ikan, mereka banyak yang menjual barang-barang berharharga. Seperti emas. “Kalau lagi musim paceklik ya begini ini,” imbuhnya.
Padahal, kata dia, saat musim ikan TPI Pasir dalam sebulan nilai transaksinya mencapai rata-rata Rp 2 milyar. Sejak musim paceklik, pada Mei lalu nilai transaksinya baru mencapai Rp 500 juta. “Bulan Juni ini ya baru sekitar Rp 50 juta,” katanya.
Sarno berharap, Pemkab Kebumen memberi perhatian kelangsungan hidup masyarakat nelayan. Dia mengungkapkan, saat ini saja harga bensin eceran di wilayahnya sudah naik menjadi Rp 7.000 per liter padahal rencana kenaikan BBM baru akan diberlakukan pemerintah minggu depan. (ori/radarbanyumas)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Kenaikan harga akan memberatkan nelayan karena seringkali hasil tangkapan di laut tidak bisa menutup biaya pembelian bensin sebagai bahan bakar perahu.
Sekretaris Rukun Nelayan TPI Pasir, Sarno (43) mengungkapkan, adanya rencana kenaikan harga BBM membuat nelayan di wilayahnya merasa kebingungan. Dengan harga bensin saat ini Rp 4.500 per liter saja seringkali para nelayan merugi saat melaut. Terlebih harga bensin di TPI Pasir dijual diatas harga normal, yakni Rp 6.000 per liternya.
Menurutnya, dengan perahu jungkung, biaya operasional untuk membeli bensin dan bekal melaut selama setengah hari baru bisa impas bila mendapat hasil Rp 300 ribu. Namun seringkali hasil yang didapat kurang dari itu, terutama untuk masa-masa paceklik seperti saat ini, sehingga para nelayan merugi.
“Adanya rencana kenaikan harga BBM kami warga masyarakat kecil, khususnya nelayan imbasnya luar biasa. tidak habis pikir mengapa nasib kami yang pendapatannya paling kecil masih harus dibebani lagi,” kata Sarno, Kamis (20/6).
Sarno mengungkapkan, saat ini kondisi nelayan di Pantai Pasir memasuki musim paceklik sejak April lalu. Biasanya musim paceklik akan berakhir pada awal Agustus. Dia menyayangkan dengan keputusan pemerintah pusat yang akan segera menaikan harga BBM bersubsidi, sehingga akan lebih membuat nelayan menderita.
“Kami sudah tiga bulan tidak melaut karena faktor musim paceklik. Nggak ada ikan, kami sudah kesusahan karena tidak ada pemasukan. Ditambah lagi bensin mau naik, ini sudah pasti memberatkan kami,” keluhnya.
Sarno menambahkan, untuk sekali melaut nelayan sedikitnya membutuhkan BBM antara 20-30 liter. Sedangkan biaya untuk operasional sekali melaut antara Rp 250 ribu – Rp 300 ribu, itu sudah termasuk biaya makan dan “Tagog”, pekerja yang membantu mengangkut perahu kedaratan.
“Walaupun bensinnya naik, harga ikan tidak serta merta ikut naik. Harga ikan itu tergantung pada pasar, kalau lagi ramai harganya ya naik. Tapi kalau lagi sepi yang murah,” beber pria yang menjabat Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Karangbolong, Kecamatan Buayan ini.
Pada musim paceklik seperti saat ini, dia bersama 800 nelayan di TPI Pasir beralih profesi. Dia mengatakan, ada nelayan yang beralih profesi menjadi penderes, kerja bangunan, sebagian lagi ada yeng merantau ke luar daerah. Setelah musim paceklik usai, mereka pun kembali melaut.
Bahkan tak sedikit nelayan yang terpaksa berhutang untuk biaya sehari-hari. Bagi nelayan yang rajin menabung saat musim ikan, mereka banyak yang menjual barang-barang berharharga. Seperti emas. “Kalau lagi musim paceklik ya begini ini,” imbuhnya.
Padahal, kata dia, saat musim ikan TPI Pasir dalam sebulan nilai transaksinya mencapai rata-rata Rp 2 milyar. Sejak musim paceklik, pada Mei lalu nilai transaksinya baru mencapai Rp 500 juta. “Bulan Juni ini ya baru sekitar Rp 50 juta,” katanya.
Sarno berharap, Pemkab Kebumen memberi perhatian kelangsungan hidup masyarakat nelayan. Dia mengungkapkan, saat ini saja harga bensin eceran di wilayahnya sudah naik menjadi Rp 7.000 per liter padahal rencana kenaikan BBM baru akan diberlakukan pemerintah minggu depan. (ori/radarbanyumas)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!