KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - KEHIDUPAN yang semakin penuh dengan tantangan telah mendorong Pondok Pesantren Nurul Hidayah di Desa Bandung Kecamatan/Kabupaten Kebumen untuk menambahkan materi kewiraswastaan dalam proses belajar mengajar bagi para santrinya. Karena itu, selain berkutat menimba ilmu agama Islam, setiap harinya mereka pun belajar berwiraswasta lewat praktek membuat dan memasarkanan tahu, tempe, tas dan peci.
"Lewat aneka usaha itu, belajar berwiraswasta benar-benar mendapatkan porsi nyata di sini. Selain untuk meringankan beban orang tua dalam membiayai hidup kami di sini, sangat bermanfaat untuk belajar mandiri kelak. Dari situlah kami mendapatkan keseimbangan antara belajar urusan duniawi dengan akhiratnya," papar Tri Komariah, salah satu pengurus pesantren, di ruang pembuatan tempe dan tahu pesantren tersebut, Kamis (09/05/2013).
Demi meraih keberhasilan dalam urusan belajar agama dan menangani aneka usaha itu, pondok pesantren yang memilikimadrasah diniyah 6 tahun dengan 400 santri putra dan putri itu mengatur waktu dengan cermat. Untuk belajar agama, mendapatkan alokasi waktu sehabis sholatsubuh sampai pukul 8 pagi dan pukul 13.00sampai 16.00. Sedangkan pukul 9 hingga 12 siang dimanfaatkan menekuni kegiatan ekonomi seperti mencuci kedelai sampai membungkusnya.
"Santri diperbolehkan bekerja di luar pondok untuk mencari tambahan penghasilan, seperti bekerja pada perajin peci dan tas yang banyak terdapat di Desa Bandung yang merupakan sentra pembuatan peci dan tas," jelas Tri. (Dwi/krjogja)
=============================================================
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | TWITTER |
"Lewat aneka usaha itu, belajar berwiraswasta benar-benar mendapatkan porsi nyata di sini. Selain untuk meringankan beban orang tua dalam membiayai hidup kami di sini, sangat bermanfaat untuk belajar mandiri kelak. Dari situlah kami mendapatkan keseimbangan antara belajar urusan duniawi dengan akhiratnya," papar Tri Komariah, salah satu pengurus pesantren, di ruang pembuatan tempe dan tahu pesantren tersebut, Kamis (09/05/2013).
Demi meraih keberhasilan dalam urusan belajar agama dan menangani aneka usaha itu, pondok pesantren yang memilikimadrasah diniyah 6 tahun dengan 400 santri putra dan putri itu mengatur waktu dengan cermat. Untuk belajar agama, mendapatkan alokasi waktu sehabis sholatsubuh sampai pukul 8 pagi dan pukul 13.00sampai 16.00. Sedangkan pukul 9 hingga 12 siang dimanfaatkan menekuni kegiatan ekonomi seperti mencuci kedelai sampai membungkusnya.
"Santri diperbolehkan bekerja di luar pondok untuk mencari tambahan penghasilan, seperti bekerja pada perajin peci dan tas yang banyak terdapat di Desa Bandung yang merupakan sentra pembuatan peci dan tas," jelas Tri. (Dwi/krjogja)
=============================================================
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | TWITTER |
BERITA KATEGORI LAINNYA: