KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - KABUT yang menyelimuti perbukitan Lokidang di perbatasan wilayah Kebumen dan Banjarnegara masih belum hilang, Jumat (7/9) pagi. Rombongan bocah berseragam SD dan SMP berjalan kaki menyusuri jalan rusak. Meski berjalan beberapa kilometer dengan jalan menanjak mereka tetap bersemangat berangkat sekolah.
Ya, bocah-bocah itu berasal dari tiga dusun Yakni Cempaka, Julek dan Pranji di Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam, Kebumen. Namun mereka berjalan tidak menuju ke SDN Giritirto melainkan ke arah wilayah Kabupaten Banjarnegara. Ternyata anak-anak tersebut memang akan belajar di SD dan SMP Desa Banaran, Kecamatan Mandiraja, Bajarnegara.
"Waktu saya SD masih sekolah di Kebumen, tetapi setelah adik saya, sudah sekolah di Banjarnegara," ujar Boyem (40) warga Dusun Julek saat ditemui Suara Merdeka di serambi rumahnya.
Dari penuturan perempuan kelahiran 1972 itu diketahui, ternyata sudah puluhan tahun warga di tiga dusun paling utara di Kebumen itu tidak menikmati pelayanan publik dari Kabupaten Kebumen. Meskipun memiliki KTP Kebumen, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga aliran listrik mereka memperolehnya dari kabupaten tetangga.
"Warga juga lebih senang ke Banjarnegara karena selain jaraknya lebih dekat, kondisi jalan juga lebih baik," ujar Boyem seraya menyebutkan warga dahulu pernah meminta pindah menjadi warga Banjarnegara, namun sampai sekarang tidak ada respon dari pemerintah.
Dia menyebutkan, mulai dari TK, SD, dan SMP warga tiga dusun itu sekolah di Desa Banaran. Sedangkan bagi yang ingin melanjutkan sekolah SMA biasanya masuk di SMAN 1 Bawang. Selain memakai sepeda motor, mereka kos di sekitar sekolah. "Di dusun ini ada tiga orang yang sekolah di sana," imbuhnya.
Dari pentauan Suara Merdeka, akses warga di tiga dusun tertebut di pusat desa benar-benar memprihatinkan. Saking parahnya, jalan sepanjang sekitar enam kilometer itu sulit untuk dilalui sepeda motor jenis ''bebek''. Hanya motor trail dan truk serta mobil dobel gardan yang mampu melalui jalan tersebut. Padahal jalan yang membelah perbukitan itu merupakan salah satu jalur yang menghubungkan Kabumen dengan Banjernegara."Meski saya orang Kebumen, tapi berpuluh-puluhan tahun tidak pernah pergi ke kota," imbunya.
Namun demikian dia masih tetap menjalani kewajiban sebagai warga negara seperti membayar pajak dan rekam data KTP Elektronik. "Kami bareng-bareng ke kecamatan naik truk," tandasnya.
Ibarat Anak Tiri
Sementara itu, musim kemarau saat ini, kehidupan warga semakin sulit. Bagaimana tidak, saat sumber mata air di perkampungan mulai mengering mereka pun harus mencari air sampai ke tengah hutan. Semua kesulitan itu mereka rasakan sendiri, tanpa intervensi tangan pemerintah. Tidak pernah sekali pun mereka mendapatkan bantuan air bersih dari Pemkab Kebumen seperti desa-desa lainnya.
"Memang desa lain ada yang dibantu air bersih," ujar Monem (65) warga lain balik bertanya.(Supriyanto-28,47/suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Ya, bocah-bocah itu berasal dari tiga dusun Yakni Cempaka, Julek dan Pranji di Desa Giritirto, Kecamatan Karanggayam, Kebumen. Namun mereka berjalan tidak menuju ke SDN Giritirto melainkan ke arah wilayah Kabupaten Banjarnegara. Ternyata anak-anak tersebut memang akan belajar di SD dan SMP Desa Banaran, Kecamatan Mandiraja, Bajarnegara.
"Waktu saya SD masih sekolah di Kebumen, tetapi setelah adik saya, sudah sekolah di Banjarnegara," ujar Boyem (40) warga Dusun Julek saat ditemui Suara Merdeka di serambi rumahnya.
Dari penuturan perempuan kelahiran 1972 itu diketahui, ternyata sudah puluhan tahun warga di tiga dusun paling utara di Kebumen itu tidak menikmati pelayanan publik dari Kabupaten Kebumen. Meskipun memiliki KTP Kebumen, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga aliran listrik mereka memperolehnya dari kabupaten tetangga.
"Warga juga lebih senang ke Banjarnegara karena selain jaraknya lebih dekat, kondisi jalan juga lebih baik," ujar Boyem seraya menyebutkan warga dahulu pernah meminta pindah menjadi warga Banjarnegara, namun sampai sekarang tidak ada respon dari pemerintah.
Dia menyebutkan, mulai dari TK, SD, dan SMP warga tiga dusun itu sekolah di Desa Banaran. Sedangkan bagi yang ingin melanjutkan sekolah SMA biasanya masuk di SMAN 1 Bawang. Selain memakai sepeda motor, mereka kos di sekitar sekolah. "Di dusun ini ada tiga orang yang sekolah di sana," imbuhnya.
Dari pentauan Suara Merdeka, akses warga di tiga dusun tertebut di pusat desa benar-benar memprihatinkan. Saking parahnya, jalan sepanjang sekitar enam kilometer itu sulit untuk dilalui sepeda motor jenis ''bebek''. Hanya motor trail dan truk serta mobil dobel gardan yang mampu melalui jalan tersebut. Padahal jalan yang membelah perbukitan itu merupakan salah satu jalur yang menghubungkan Kabumen dengan Banjernegara."Meski saya orang Kebumen, tapi berpuluh-puluhan tahun tidak pernah pergi ke kota," imbunya.
Namun demikian dia masih tetap menjalani kewajiban sebagai warga negara seperti membayar pajak dan rekam data KTP Elektronik. "Kami bareng-bareng ke kecamatan naik truk," tandasnya.
Ibarat Anak Tiri
Sementara itu, musim kemarau saat ini, kehidupan warga semakin sulit. Bagaimana tidak, saat sumber mata air di perkampungan mulai mengering mereka pun harus mencari air sampai ke tengah hutan. Semua kesulitan itu mereka rasakan sendiri, tanpa intervensi tangan pemerintah. Tidak pernah sekali pun mereka mendapatkan bantuan air bersih dari Pemkab Kebumen seperti desa-desa lainnya.
"Memang desa lain ada yang dibantu air bersih," ujar Monem (65) warga lain balik bertanya.(Supriyanto-28,47/suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!