Kawasan Hutan Wagirpandan, Dikeramatkan, Simpan Potensi Wisata

ilustrasi
ROWOKELE (www.beritakebumen.info) - Jika dipandang dari kejauhan secara kasat mata, kawasan hutan Wagirpandan di Kecamatan Rowokele, Kebumen hanya tampak kokohnya pohon pinus. Namun, setelah memasuki kawasan hutan negara yang berjarak sekitar 7 km dari Jalan Raya Gombong-Banyumas itu banyak dijumpai bermacam tanaman di bawah tegakan. Tanaman cengkih, kopi, jenitri terlihat tumbuh rimbun diantara pinus tanaman tahun 1980 hingga 2003 itu. Banyak pula tanaman empon-empon, kapulaga, jahe, kunir dan sejenisnya di hutan yang masuk wilayar Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Giyandi, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gombong Utara, KPH Kedu Selatan itu.

Lebih jauh memasuki hutan di petak 28H dan petak 22, terlihat tanaman pinus yang berdiameter 40 cm berlumut kekuningan layaknya di kawasan hutan lindung.

Banyak tanaman cengkih, kopi dan bambu petung, serta jenitri. Di bawah tegakan, rimbun dengan tanaman kapulaga dan jenis peradu lain yang menambah rimbunnya hutan.

Lima Makam


Kesunyian semakin terasa memasuki kawasan hutan petak 22. Apalagi di kawasan yang dikenal warga setempat sebagai Panembahan Si Weru itu terdapat lima makam yang ditandai dengan pohon andong. Makam tersebut diyakini bukan makam orang biasa. Konon makam tersebut masih terkait sejarah Jambe Tujuh dari Cilacap pada Zaman sebelum kewalian.

Tidak seorang pun warga mengetahui asal muasal keberadaan makam tersebut. Kepala Desa Wagirpandan, Ruslan mengaku sudah menanyakan kepada banyak warga, terutama para kesepuhan. Tapi mereka juga tidak ada yang tahu."Mereka hanya tahu makam itu sudah ada sejak kawasan tersebut masih hutan belantara, jauh sebelum hutan ditanami pinus," ujar Ruslan Kepala Suara Merdeka, kemarin.

Pada jaman dulu, kata dia, para peziarah yang mendatangi makam tersebut. Namun saat ini jarang dikunjungi. Meski demikian, masyarakat desa masih mengkeramatkannya. Warga juga mengkeramatkan kawasan hutan sebagai tempat yang tidak boleh diusik apalagi dirusak, sehingga hutan masih terpelihara dengan baik.

"Bahkan jika ada pohon pinus tumbang warga tidak berani mengambil, tanpa seizin petugas," imbuh Ruslan.

Potensi Wisata


Di luar potensi tanaman yang mampu menjaga ekosistem dan melestarikan mata air, hutan wagirpandan ternyata menyimpan potensi wisata. Yakni berupa tiga air terjun alias curug yang berada di sepanjang anakan Sungai Gimawang.

Ketiga curug tersebut adalah curug Gombong dengan ketinggian air terjun 20 m, di bawahnya terdapat curug Aro dan Curug Bulu Kuning. Curug Gombong kerap dikunjungi warga bahkan lokasi jatuhnya air terjun dijadikan untuk berenang.

"Mungkin lokasinya yang berada di tengah hutan jauh dari pemukiman, menjadikan para pengunjung agak merasa takut untuk mengunjungi," ujar Anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Lestari Madiharjo (55) seraya menyebutkan di sekitar Curug Gombong tersebut masih terdapat gogor (anak macan kumbang-red).

Sementara itu, Desa Wagirpandan berada di sebelah utara jembatan Ijo. Desa yang berada di ketinggian 300-640 MDPL itu berbatasan dengan Desa Watu Agun, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas. Perbatasan hanya pisahkan oleh Sungai Ijo. Begitu masuk desa suasana asri. Di kanan kiri jalan yang sebagian beraspal, rabat beton yang terlihat hanya pohon-pohon jati, mahoni, sono keling, albasia dan tanaman bambu.

Sedangkan di dalam perkampungan, terlihat banyak tanaman cengkih dan kopi yang selama ini menjadi penghasil utama warga desa, selain empon-empon dan ubi kayu. Penghasilan masyarakat Desa Wagirpandan didominasi hasil kayu, hasil hutan non kayu seperti getah pinus, hasil perkebunan cengkih, kopi serta empon-empon.

"Tanaman pinus menjadi penghasilan pokok, karena sadapan getahnya," ujar pria yang sudah mepat tahun membantu mandor Perhutani mengurus penyadap dan hasil getah pinus tersebut.

Terlepas dari semua potensi itu, tidak berlebihan jika desa itu menjadi desa konservasi. Hampir tidak ada lahan kosong, baik dalam kawasan hutan negara, maupun hutan rakyat. Penduduknya juga tidak pernah mengalami kesulitan air bersih. "Warga memanfaatkan air dari anakn sungai maupun sumber mata air yang jernih," tandasnya. (Supriyanto-45/SM)



=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

أحدث أقدم