KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Karena tidak ada pilihan lagi untuk tempat relokasi pedagang Pasar Jatisari, Kecamatan Kebumen, Akhirnya sekitar 450 pedagang menempati Jalan Surupan, Desa Wonosari, Kecamatan Kebumen.
Hal itu menyusul larangan dari PT KAI untuk berjualan di sekitar Stasiun Wonosari. Jalan yang menghubungkan Kecamatan Kebumen-Alian itu pada kanan kirinya dibuat lapak-lapak, sehingga tersisa sekitar 2 meter.
Saat hari pasaran Rabu dan Minggu, Jalan tersebut pebuh sesak, sehingga tidak bisa dilalui kenderaan roda empat. Untuk menuju Kecamatan Alian dari Jalan Kutoarjo Kebumen, pengguna jalan harus memutar melewati jalan desa wonosari.
Jalan surupan sepanjang 150 meter. Selain menempati kanan kiri jalan tersebut, pedagang juga menggunakan tanah warga untuk mendirikan lapak. Suasana tempat relokasi pedagang Pasar Jatisari itu ramai, Minggu (3/6) kemarin. aktivitas jual beli pun berjalan lancar. "Pengurangan jumlah pembeli tidak seberapa. Di sini tetap laris," kata suharti (45), salah seorang pedagang Bumbon.
Kendati demikian sebagian warga mengeluhkan penggunaan Jalan Surupan sebagai pasar darurat. Seperti yang disampaikan Pardi (56), warga wonosari.
Menurutnya, dampak dari penggunaan jalan tersebut menjadikan Jalan Surupan tidak berfungsi . Hanya pengendara motor saja yang bisa lewat. Padahal, jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan parah tersebut baru diperbaiki.
Papan Larangan
"Saya tidak menyalahkan pedagang yang menempati Jalan Surupan. Hanya saja kenapa dari PT KAI tidak mengijinkan pedagang menempati sekitar stasiun ?. Padahal keberadaannya tidak mengganggu sama sekali," keluhnya.
Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Pada Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Kebumen, sigit Basuki mengaku sudah mengajukan ijin kepada DAOP V Purwokerto terkait penggunaan lahan PT KAI tersebut. Namun oleh petugas stasiun wonosari malah dipasang papan larangan dilarang berjualan. Akhirnya pedagang mencari tempat lain yakni dijalan Surupan.
"Sudahlah yang penting pedagang bisa berjualan dan dagangannya laris. Kami mohon doa restu kepada masyarakat agar gawe Pemkab dalam membangun sejumlah pasar tradisional berjalan lancar dan sukses" Kata sigit.
Selain Pasar Jatisari yang didanai Rp. 3,5 miliar, juga dibangun Pasar Tumenggungan dengan dana Rp. 52 Miliar, Pasar Permbun Rp 4 miliar, Pasar Karanganyar Rp 7 Miliar dan pasar tlogopragoto mirit Rp 1,6 miliar. Sebelumnya ada 4 pasar tradisional yang dibangun yakni alian Rp 3,5 ,iliar, ambal Rp 4 miliar, ayah Rp 3 miliar dan pasar plumbon Rp 500 juta.
Pemkab Kebumen masih merencanakan membangun 7 pasar tradisional lagi yakni Pasar Kutowinangun, Demangsari, Giwangretno, Pasar Hewan Gombong, Sruni, Pasar Burung Gombong serta Pasar Petanahan. (suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE
Hal itu menyusul larangan dari PT KAI untuk berjualan di sekitar Stasiun Wonosari. Jalan yang menghubungkan Kecamatan Kebumen-Alian itu pada kanan kirinya dibuat lapak-lapak, sehingga tersisa sekitar 2 meter.
Saat hari pasaran Rabu dan Minggu, Jalan tersebut pebuh sesak, sehingga tidak bisa dilalui kenderaan roda empat. Untuk menuju Kecamatan Alian dari Jalan Kutoarjo Kebumen, pengguna jalan harus memutar melewati jalan desa wonosari.
Jalan surupan sepanjang 150 meter. Selain menempati kanan kiri jalan tersebut, pedagang juga menggunakan tanah warga untuk mendirikan lapak. Suasana tempat relokasi pedagang Pasar Jatisari itu ramai, Minggu (3/6) kemarin. aktivitas jual beli pun berjalan lancar. "Pengurangan jumlah pembeli tidak seberapa. Di sini tetap laris," kata suharti (45), salah seorang pedagang Bumbon.
Kendati demikian sebagian warga mengeluhkan penggunaan Jalan Surupan sebagai pasar darurat. Seperti yang disampaikan Pardi (56), warga wonosari.
Menurutnya, dampak dari penggunaan jalan tersebut menjadikan Jalan Surupan tidak berfungsi . Hanya pengendara motor saja yang bisa lewat. Padahal, jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan parah tersebut baru diperbaiki.
Papan Larangan
"Saya tidak menyalahkan pedagang yang menempati Jalan Surupan. Hanya saja kenapa dari PT KAI tidak mengijinkan pedagang menempati sekitar stasiun ?. Padahal keberadaannya tidak mengganggu sama sekali," keluhnya.
Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Pada Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Kebumen, sigit Basuki mengaku sudah mengajukan ijin kepada DAOP V Purwokerto terkait penggunaan lahan PT KAI tersebut. Namun oleh petugas stasiun wonosari malah dipasang papan larangan dilarang berjualan. Akhirnya pedagang mencari tempat lain yakni dijalan Surupan.
"Sudahlah yang penting pedagang bisa berjualan dan dagangannya laris. Kami mohon doa restu kepada masyarakat agar gawe Pemkab dalam membangun sejumlah pasar tradisional berjalan lancar dan sukses" Kata sigit.
Selain Pasar Jatisari yang didanai Rp. 3,5 miliar, juga dibangun Pasar Tumenggungan dengan dana Rp. 52 Miliar, Pasar Permbun Rp 4 miliar, Pasar Karanganyar Rp 7 Miliar dan pasar tlogopragoto mirit Rp 1,6 miliar. Sebelumnya ada 4 pasar tradisional yang dibangun yakni alian Rp 3,5 ,iliar, ambal Rp 4 miliar, ayah Rp 3 miliar dan pasar plumbon Rp 500 juta.
Pemkab Kebumen masih merencanakan membangun 7 pasar tradisional lagi yakni Pasar Kutowinangun, Demangsari, Giwangretno, Pasar Hewan Gombong, Sruni, Pasar Burung Gombong serta Pasar Petanahan. (suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!