KEBUMEN (The Independent News) - Perkembangan Koperasi Unit Desa (KUD) di Kebumen, 3 diantaranya sudah berhenti beroperasi. Hal itu terungkap saat rapat Koordinasi pemberdayaan KUD se-Kabupaten di Rumah Makan Pelangi, jalan Lingkar Selatan, Senin (14/5). Menurut Ketua Koperasi Jasa Usaha Bersama (KJUB) Kabupaten Kebumen, Kadar SPd MPd, adanya kebijakan rayonisasi distribusi pupuk."Dulu, sebelum kebijakan tersebut diberlakukan, sebanyak 22 KUD tersebut menjadi pengecer pupuk dibawah KJUB yang merupakan distributor," kata Kadar, yang juga Ketua Pusat Koperasi Pegawai Republik Indoensia (PKPRI) Kebumen.
Menyusuli pemberlakuan rayonisasi, dari 8 distributor di Kebumen masing-masing diberi jatah per wilayah. KJUB hanya mencakup 3 kecamatan. Sementara nasib 22 KUD tidak lagi menjadi pengecer pupuk. Padahal, kebijakan rayonisasi dianggap lebih semrawut. Seperti jatah pupuk yang dijual lebih mahal ke daerah lain.
Di sisi lain, perkembangan KUD menjadi semakin memperihatinkan. Dua KUD yang sebelumnya tidak menjadi pengecer pupuk lebih dulu mandek. Disusul kemudian satu KUD. Masing-masing yakni KUD Krido Basuki Kecamatan Prembun, KUD Serba Guna Kecamatan Ayah dan KUD Mars Kecamatan Karanggayam.
Jika tidak segera diatasi pihak terkait, 21 KUD lainnya yang saat ini masih aktif diperkirakan kandas ditengah jalan. "Kami berharap agar distribusi pupuk dikembalikan pola lama, sehingga KUD bisa berkembang," jelas Kadar.
KUD Bangkit
Dengan adanya distribusi pupuk lewat KUD, maka perekonomian KUD menjadi bangkit kembali. Rapat yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kebumen itu dihadiri Kabid Pemberdayaan Koperasi Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, Supriyono dan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kebumen Djoko Soetrisno ST MM.
Menurut Djoktris, panggilan Djoko Soetrisno, perkembangan KUD yang terseok-seok itu karena kurang mampu beradaptasi dengan perubahan sosial ekonomi yang ada, sehingga banyak yang mati suri. Permasalahan KUD di Kebumen cukup kompleks. "Memang, perkembangan KUD relatif tertinggal dibandingkan badan usaha lain seperti PT, CV, BUMD," katanya.
Supriyono membaca lemahnya akses terhadap modal yang dimiliki KUD. Selain itu akses pasar dan jaringan usaha, teknologi dan informasi, serta rendahnya jiwa kewirausahaan dan kualitas SDM, " Juga lemah dalam manajemen dan organisasi," tandasnya.
Pihaknya mengambil kebijakan dan strategi antara lain memperluas akses koperasi dan UMKKM terhadap lembaga pembiayaan, penguatan kelembagaan keuangan serta pengembangan jaringan usaha dan sarana prasarana pendukung kegiatan usaha KUD. (K5-84/suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE
Menyusuli pemberlakuan rayonisasi, dari 8 distributor di Kebumen masing-masing diberi jatah per wilayah. KJUB hanya mencakup 3 kecamatan. Sementara nasib 22 KUD tidak lagi menjadi pengecer pupuk. Padahal, kebijakan rayonisasi dianggap lebih semrawut. Seperti jatah pupuk yang dijual lebih mahal ke daerah lain.
Di sisi lain, perkembangan KUD menjadi semakin memperihatinkan. Dua KUD yang sebelumnya tidak menjadi pengecer pupuk lebih dulu mandek. Disusul kemudian satu KUD. Masing-masing yakni KUD Krido Basuki Kecamatan Prembun, KUD Serba Guna Kecamatan Ayah dan KUD Mars Kecamatan Karanggayam.
Jika tidak segera diatasi pihak terkait, 21 KUD lainnya yang saat ini masih aktif diperkirakan kandas ditengah jalan. "Kami berharap agar distribusi pupuk dikembalikan pola lama, sehingga KUD bisa berkembang," jelas Kadar.
KUD Bangkit
Dengan adanya distribusi pupuk lewat KUD, maka perekonomian KUD menjadi bangkit kembali. Rapat yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kebumen itu dihadiri Kabid Pemberdayaan Koperasi Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, Supriyono dan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kebumen Djoko Soetrisno ST MM.
Menurut Djoktris, panggilan Djoko Soetrisno, perkembangan KUD yang terseok-seok itu karena kurang mampu beradaptasi dengan perubahan sosial ekonomi yang ada, sehingga banyak yang mati suri. Permasalahan KUD di Kebumen cukup kompleks. "Memang, perkembangan KUD relatif tertinggal dibandingkan badan usaha lain seperti PT, CV, BUMD," katanya.
Supriyono membaca lemahnya akses terhadap modal yang dimiliki KUD. Selain itu akses pasar dan jaringan usaha, teknologi dan informasi, serta rendahnya jiwa kewirausahaan dan kualitas SDM, " Juga lemah dalam manajemen dan organisasi," tandasnya.
Pihaknya mengambil kebijakan dan strategi antara lain memperluas akses koperasi dan UMKKM terhadap lembaga pembiayaan, penguatan kelembagaan keuangan serta pengembangan jaringan usaha dan sarana prasarana pendukung kegiatan usaha KUD. (K5-84/suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE

Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!