Tebing Luk Ulo Ambrol Sepanjang 300 Meter

KEBUMEN - Tebing Sungai Luk Ulo di Desa Maduretno, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen ambrol sepanjang 300 meter. Kondisi tersebut mengancam dua rumah yakni milik Sukamto (31) dan Darsih (50). Longsor susulan masih berlanjut hingga Minggu (6/11) kemarin.



Menurut Sukamto, longsor yang terjadi Jumat (3/11) malam itu mengejutkan warga setempat. "Longsor di sepanjang 300 meter tebing ini berlangsung bersamaan, sehingga suaranya terdengar keras," kata Sukamto yang langsung mengecek sumber suara pada malam itu.

Selain menumbangkan kelapa yang berjumlah 8 pohon, longsor mengerikan itu juga menghanyutkan puluhan batang pohon bambu serta sejumlah tanaman albasia. Longsor yang kemudian menjalar tersebut membuat Sungai Luk Ulo kian lebar. "Dulu, di samping rumah saya masih ada rumah lagi," kenang Sukamto.

Sekitar 10 tahun silam itu, jarak rumahnya dengan tebing sungai berkelok-kelok tersebut mencapai 50 meter. Kini, tinggal sekitar 4 meter. Bahkan, tanah di tebing sungai itu sudah tampak menganga hingga mengenai bangunan rumah milik Sukamto. Untuk rumah milik Darsih sudah ditinggal penghuninya, sedangkan Sukamto masih bertahan di rumah yang terancam tergerus longsor tersebut. Dia tinggal bersama istri, anak dan orang tuanya yang berjumlah 6 jiwa.

Ada Bego

Kepala Desa Paryudi meminta kepada pihak terkait untuk secepatnya menangani hal tersebut. Menurutnya, kerusakan tebing sungai akibat penambangan pasir itu sudah berlangsung lama. Hingga kemudian kerusakannya bertambah parah. "Kami sudah melaporkan berulangkali, namun tidak ada tanggapan," tandasnya.

Kali ini, menyusul ambrolnya tebing sepanjang 300 meter itu, telah ditindaklanjuti Dinas Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (SDAESDM) Kabupaten Kebumen dengan mengecek lokasi. Kendati demikian, pihaknya berharap adanya realisasi penanganan kerusakan tebing sungai tersebut. Antara lain dengan dibronjong. Jika tidak segera dilakukan, lanjut Paryudi, dikhawatirkan kembali terjadi longsor susulan, dan dipastikan mengenai perumahan penduduk.

Sekretaris Desa Maduretno, Agus Priyanto, menjelaskan, jumlah penambang pasir yang beroperasi di sungai tersebut cukup banyak. "Namun kami pastikan tidak ada yang berasal dari Maduretno,'' imbuhnya.

Penambang tersebut mengeruk pasir dari mulai Jembatan Ayamputih hingga ke Desa Bocor. Di daerah hulu lebih parah lagi, mulai dari Peniron, Kecamatan Pejagoan, Desa Karangrejo Kecamatan Karanggayam dan Desa Seling, Desa Banioro serta Desa Karangsambung Kecamatan Karangsambung. Penambang pasir yang beroperasi di daerah setempat tidak hanya menggunakan mesin sedot, tetapi juga ada yang memakai bego. Saat banjir bandang bersamaan dengan tebing ambrol di Desa Maduretno itu, bego yang disewa oleh Tohirin (42), warga Karangsambung ikut terjebak banjir. (K5,23|Suaramerdeka)



=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Previous Post Next Post