Semarang, CyberNews. Kerajinan berbahan bambu hingga saat ini jumlahnya sudah tidak terhitung lagi. Butuh kreativitas agar kerajinan dari bambu memiliki banyak peminat. Karena itu, munculah kerajinan spun bamboo atau pilinan bambu. Kerajinan asli Vietnam ini mulai marak di negeri kita dan menyediakan peluang bisnis.
Bagi Tusimin (40) warga Desa Somogede RT 3 RW 1 Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen itu, bambu yang dibentuk selama ini biasa-biasa saja dibuat luar biasa. Meski meniru kerajinan yang ada Bangkok saat wisata ke negera itu, baginya kreatifitas dan bentuk menjadi berbeda.
"Tekniknya sama, tapi bentuknya saya sengaja membuat berbeda," ujar peserta Pameran Kriya Nusantara di Lawang Sewu itu, Kamis (7/7).
Bagi bapak dua anak itu, bambu merupakan tanaman istimewa yang dapat dimanfaatkan hingga akar dan daunnya. Batangnya yang lentur tapi kuat membuat bambu kerap menjadi bahan baku produksi aneka barang fungsional seperti meja, kursi, penopang rumah, dan lainnya.
Spun bamboo alias bambu koil dibuat dengan cara melilitkan bambu yang dibelah tipis. Irisan-irisan bambu itu dililitkan sehingga menyatu dan menjadi bentuk sesuai keinginan. Proses pengerjaannya pun sepenuhnya secara manual, mulai dari pemotongan bambu, melilit bambu, hingga membentuk kerajinan. Hanya proses penghalusan saja yang memakai mesin.
"Sampai saat ini kami sudah membuat bentuk seperti piring, mangkok, tempat bunga, dan lainnya," ujar Tusimin yang omzetnya mencapai Rp 80 juta per bulan itu hari ini (7/7).
Dalam pemasaran, ia mengaku sejak berproduksi pada 2000 sudah mengirim hasil kerajinannya itu hingga belahan dunia, seperti Jerman, Amerika, Belanda, Mesir, Turki dan India.
"Sekarang ini saya sedang mencoba memasarkan di tingkat lokal juga, seperti Semarang dan kota-kota lainnya di Jawa Tengah," jelasnya.
Untuk harga, kata dia, sesuai bentuk, tingkat kerumitan dan besarnya barang. Kerajinan berbentuk nampan, salahsatunya, ia mematok harga Rp 126 ribu per unitnya, untuk tempat bunga mulai Rp 158 ribu, dan tempat minuman mulai Rp 660 ribu.
sumber: suaramerddeka.com - 7 Juli 2011
PRINT HALAMAN INI..!!
Bagi Tusimin (40) warga Desa Somogede RT 3 RW 1 Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen itu, bambu yang dibentuk selama ini biasa-biasa saja dibuat luar biasa. Meski meniru kerajinan yang ada Bangkok saat wisata ke negera itu, baginya kreatifitas dan bentuk menjadi berbeda.
"Tekniknya sama, tapi bentuknya saya sengaja membuat berbeda," ujar peserta Pameran Kriya Nusantara di Lawang Sewu itu, Kamis (7/7).
Bagi bapak dua anak itu, bambu merupakan tanaman istimewa yang dapat dimanfaatkan hingga akar dan daunnya. Batangnya yang lentur tapi kuat membuat bambu kerap menjadi bahan baku produksi aneka barang fungsional seperti meja, kursi, penopang rumah, dan lainnya.
Spun bamboo alias bambu koil dibuat dengan cara melilitkan bambu yang dibelah tipis. Irisan-irisan bambu itu dililitkan sehingga menyatu dan menjadi bentuk sesuai keinginan. Proses pengerjaannya pun sepenuhnya secara manual, mulai dari pemotongan bambu, melilit bambu, hingga membentuk kerajinan. Hanya proses penghalusan saja yang memakai mesin.
"Sampai saat ini kami sudah membuat bentuk seperti piring, mangkok, tempat bunga, dan lainnya," ujar Tusimin yang omzetnya mencapai Rp 80 juta per bulan itu hari ini (7/7).
Dalam pemasaran, ia mengaku sejak berproduksi pada 2000 sudah mengirim hasil kerajinannya itu hingga belahan dunia, seperti Jerman, Amerika, Belanda, Mesir, Turki dan India.
"Sekarang ini saya sedang mencoba memasarkan di tingkat lokal juga, seperti Semarang dan kota-kota lainnya di Jawa Tengah," jelasnya.
Untuk harga, kata dia, sesuai bentuk, tingkat kerumitan dan besarnya barang. Kerajinan berbentuk nampan, salahsatunya, ia mematok harga Rp 126 ribu per unitnya, untuk tempat bunga mulai Rp 158 ribu, dan tempat minuman mulai Rp 660 ribu.
sumber: suaramerddeka.com - 7 Juli 2011
PRINT HALAMAN INI..!!

Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!