KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Perahu yang ditumpangi karam dihantam gelombang kemudian tiga hari terombang ambing di tengah lautan menjadi pengalaman tak terlupakan dalam hidup Sriyanto alias Anto (42). Sempat berpikir hidupnya akan berakhir, nelayan asal Dusun Bundel, Desa Jintung, Kecamatan Ayah itu selamat dan kembali pulang kepada keluarganya.
Kejadian itu bermula saat perahu "Wahyu Titis" yang dinaiki bersama temannya Satiman alias Panjul (46), warga Desa Srati Ayah karam dihantam gelombang besar sekitar 20 mil dari pantai, Rabu (15/1) sekitar pukul 11.00. Sehari semalam mereka berdua berpegangan di perahu yang terbalik, terbawa gelombang hingga perairan Purworejo. Saat perahu mulai tenggelam, Anto dan Panjul berusaha mencopot sayap perahu (katir). Sayang, usaha itu gagal lantaran satu katir tidak bisa dilepas dan satunya lagi bocor.
Akhirnya, Kamis (16/1) mereka meninggalkan perahu dengan memanfaatkan dua jerigen bensin yang digandeng. Namun ketika digunakan berdua, jerigen tenggelam dan akhirnya salah satu harus mengalah. "Saya mengalah dan kembali ke perahu," ujar Sriyanto saat ditemui.
Kedua nelayan itu pun terpisah di tengah ganasnya Samudera Hindia. Sebelum terpisah keduanya saling menitip pesan bagi keluarga masing-masing. Mereka berjanji akan saling mencari jika dapat kembali ke darat. Sebelum hilang dari pandangannya, Sriyanto melihat Panjul terbawa arus ke arah barat daya.
Ketika sudah sendirian di lautan, bapak tiga anak itu mengaku bingung karena semakin tenggelam. Dengan pasrah kepada Tuhan, dia pun meninggalkan perahu dengan menggunakan mantel dan dayung. Selama tiga hari terombang ambing di tengah laut, dia terus berusaha mengapung tanpa pelampung, hanya menggunakan dayung. Meski hanya minum air hujan, rasa lapar dan dingin dia abaikan. "Saya tak pernah berhenti beristighfar dan minta pertolongan dan keselamatan kepada Allah," ujarnya seraya mengaku mendapat kekuatan luar biasa untuk menggerakkan kaki dan tangannya agar tidak tenggelam.
Kamis siang, dua kapal tanker melintas di dekatnya. Meski sudah memberi tanda dan berteriak minta tolong, namun mereka tidak melihat keberadaannya. Pada malam Jumat, di antara hidup dan mati, Anto merasakan dirayu oleh makhluk harus untuk ikut bersama mereka. Saat itu seolah-olah menolak ajakan mereka.
Akhirnya, Jumat (17/1) pagi, Tuhan mengirim juru selamat. Sebuah kapal tongkang yang mengangkut batubara melintas. Saat itu Anto berenang menuju haluan kapal agar bisa dilihat awak kapal. Beruntung awak kapal melihatnya dan menarik dengan tali ke atas kapal. Posisi dia diselamatkan di selatan Pantai Parangtritis, Bantul. "Sore hari Saya diturunkan diturunkan di perairan Pacitan Jatim dan dibawa ke darat menggunakan perahu nelayan dan Tim SAR setempat," ujarnya.
Selanjutnya Sriyanto pulang ke Kebumen melalui jalur darat. Dia dijemput oleh tim SAR Lawet Perkasa dan Sabtu (18/1) sekitar pukul 10.00 sudah bertemu dengan keluarganya. Tangis harus menyambut pahlawan keluarga tersebut. Sementara itu, hingga Minggu (18/1) petang, Panjul masih belum ditemukan. Adapun pencarian oleh Tim SAR gabungan sudah ditutup. "Saat ini kami mengandalkan informasi dari nelayan yang sedang melaut," ujar Komandan SAR Lawet Perkasa Bejo Priyono.
( Supriyanto / CN34 / Suaramerdeka )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Kejadian itu bermula saat perahu "Wahyu Titis" yang dinaiki bersama temannya Satiman alias Panjul (46), warga Desa Srati Ayah karam dihantam gelombang besar sekitar 20 mil dari pantai, Rabu (15/1) sekitar pukul 11.00. Sehari semalam mereka berdua berpegangan di perahu yang terbalik, terbawa gelombang hingga perairan Purworejo. Saat perahu mulai tenggelam, Anto dan Panjul berusaha mencopot sayap perahu (katir). Sayang, usaha itu gagal lantaran satu katir tidak bisa dilepas dan satunya lagi bocor.
Akhirnya, Kamis (16/1) mereka meninggalkan perahu dengan memanfaatkan dua jerigen bensin yang digandeng. Namun ketika digunakan berdua, jerigen tenggelam dan akhirnya salah satu harus mengalah. "Saya mengalah dan kembali ke perahu," ujar Sriyanto saat ditemui.
Kedua nelayan itu pun terpisah di tengah ganasnya Samudera Hindia. Sebelum terpisah keduanya saling menitip pesan bagi keluarga masing-masing. Mereka berjanji akan saling mencari jika dapat kembali ke darat. Sebelum hilang dari pandangannya, Sriyanto melihat Panjul terbawa arus ke arah barat daya.
Ketika sudah sendirian di lautan, bapak tiga anak itu mengaku bingung karena semakin tenggelam. Dengan pasrah kepada Tuhan, dia pun meninggalkan perahu dengan menggunakan mantel dan dayung. Selama tiga hari terombang ambing di tengah laut, dia terus berusaha mengapung tanpa pelampung, hanya menggunakan dayung. Meski hanya minum air hujan, rasa lapar dan dingin dia abaikan. "Saya tak pernah berhenti beristighfar dan minta pertolongan dan keselamatan kepada Allah," ujarnya seraya mengaku mendapat kekuatan luar biasa untuk menggerakkan kaki dan tangannya agar tidak tenggelam.
Kamis siang, dua kapal tanker melintas di dekatnya. Meski sudah memberi tanda dan berteriak minta tolong, namun mereka tidak melihat keberadaannya. Pada malam Jumat, di antara hidup dan mati, Anto merasakan dirayu oleh makhluk harus untuk ikut bersama mereka. Saat itu seolah-olah menolak ajakan mereka.
Akhirnya, Jumat (17/1) pagi, Tuhan mengirim juru selamat. Sebuah kapal tongkang yang mengangkut batubara melintas. Saat itu Anto berenang menuju haluan kapal agar bisa dilihat awak kapal. Beruntung awak kapal melihatnya dan menarik dengan tali ke atas kapal. Posisi dia diselamatkan di selatan Pantai Parangtritis, Bantul. "Sore hari Saya diturunkan diturunkan di perairan Pacitan Jatim dan dibawa ke darat menggunakan perahu nelayan dan Tim SAR setempat," ujarnya.
Selanjutnya Sriyanto pulang ke Kebumen melalui jalur darat. Dia dijemput oleh tim SAR Lawet Perkasa dan Sabtu (18/1) sekitar pukul 10.00 sudah bertemu dengan keluarganya. Tangis harus menyambut pahlawan keluarga tersebut. Sementara itu, hingga Minggu (18/1) petang, Panjul masih belum ditemukan. Adapun pencarian oleh Tim SAR gabungan sudah ditutup. "Saat ini kami mengandalkan informasi dari nelayan yang sedang melaut," ujar Komandan SAR Lawet Perkasa Bejo Priyono.
( Supriyanto / CN34 / Suaramerdeka )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!