KARANGSAMBUNG (www.beritakebumen.info) - Para petani di Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung, Kebumen tengah memasuki panen raya untuk komoditas petai. Selain kualitas buah yang bagus, harga petai di tingkat petani juga cukup tinggi.
Paryono (52) petani di Dusun Kalikemong, Desa Wadasmalang, mengakui produksi petai di desanya tengah melimpah. Sebab sebagian besar petani panen buah yang dalam bahasa saintifiknya disebut parkia speciosa itu.
"Sekarang sedang puncak-puncaknya. Karena setiap pohon buahnya tidak sama, sampai tiga bulan ke depan masih ada yang panen," ujar Paryono kepada Suara Merdeka, Kamis (16/1).
Pria yang juga nyambi sebagai tengkulak itu mengaku, dalam sekali petik satu pohon bisa menghasilkan buah yang berfariasi. Untuk pohon besar, petai yang dipetik bisa mencapai 300 ikat. Satu ikat terdiri atas 10 papan petai. "Sedangkan pohon yang masih kecil hanya menghasilkan 20 ikat," imbuh Paryono yang menjadi tengkulak sejak 1996 tersebut.
Setiap pasaran biasanya dia membawa sekitar 400 ikat buah berbau menyengat itu untuk dijual ke pasar, seperti di Pasar Krakal, Kecamatan Alian. Disebutkannya, saat ini harga petai di tingkat petani mencapai Rp 15.000/ikat. Harga tersebut relatif bagus, mengingat jika harga sedang jatuh, satu ikat bisa hanya laku Rp 7.000.
"Sekarang untuk komoditas petai yang bagus. Tetapi untuk buah durian tidak terlalu bagus hasilnya," ujarnya.
( Supriyanto / CN34 / Suaramerdeka.com )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Paryono (52) petani di Dusun Kalikemong, Desa Wadasmalang, mengakui produksi petai di desanya tengah melimpah. Sebab sebagian besar petani panen buah yang dalam bahasa saintifiknya disebut parkia speciosa itu.
"Sekarang sedang puncak-puncaknya. Karena setiap pohon buahnya tidak sama, sampai tiga bulan ke depan masih ada yang panen," ujar Paryono kepada Suara Merdeka, Kamis (16/1).
Pria yang juga nyambi sebagai tengkulak itu mengaku, dalam sekali petik satu pohon bisa menghasilkan buah yang berfariasi. Untuk pohon besar, petai yang dipetik bisa mencapai 300 ikat. Satu ikat terdiri atas 10 papan petai. "Sedangkan pohon yang masih kecil hanya menghasilkan 20 ikat," imbuh Paryono yang menjadi tengkulak sejak 1996 tersebut.
Setiap pasaran biasanya dia membawa sekitar 400 ikat buah berbau menyengat itu untuk dijual ke pasar, seperti di Pasar Krakal, Kecamatan Alian. Disebutkannya, saat ini harga petai di tingkat petani mencapai Rp 15.000/ikat. Harga tersebut relatif bagus, mengingat jika harga sedang jatuh, satu ikat bisa hanya laku Rp 7.000.
"Sekarang untuk komoditas petai yang bagus. Tetapi untuk buah durian tidak terlalu bagus hasilnya," ujarnya.
( Supriyanto / CN34 / Suaramerdeka.com )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!