AMBAL(www.beritakebumen.info) - Serangan penyakit mematikan yang diduga disebabkan oleh sejenis virus, ternyata tak hanya menimpa ribuan batang tanaman pepaya di Kebumen. Ribuan tanaman cabai di sejumlah desa sentra cabai di Kebumen pun mengalami hal serupa. Matinya tanaman cabai itu menyebabkan para petaninya mati kutu, karena produktifitas tanaman cabai mereka terhenti.
"Biasanya penyakit pada tanaman cabai hanya menyerang daun atau buahnya saja, seperti penyakit hama kres atau kutu putih. Tapi serangan penyakit kali ini benar-benar fatal, karena mematikan tanaman," ungkap Siswadi (45), petani cabai Desa Entak Kecamatan Ambal Kebumen, di lahannya, Jum'at (17/1/2014).
Matinya ribuan tanaman cabai yang terjadi sejak awal Januari 2014 itu menyebabkan aktifitas pemanenan cabai rawit maupun cabai keriting di Entak yang biasanya dilakukan setiap hari, kini terhenti. Dampak dari kondisi itu menurut Siswadi, selain pemilik lahan menderita kerugian jutaan rupiah dan kehilangan pemasukan dari penjualan cabai, buruh petik cabai pun kehilangan pekerjaan.
"Dari pemetikan cabai, para buruh pemetik itu biasanya mendapatkan upah Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per hari, tergantung banyaknya cabai yang mereka petik. Dalam keadaan tanaman cabai sehat, hasil pemetikan per hari bisa mencapai 5 kuintal," jelas Siswadi yang menanam cabai rawit dan keriting seluas 1 hektar.
Akibat serangan penyakit mematikan pada tanaman cabai itu menyebabkan para petani cabai di Kecamatan Ambal dan kecamatan-kecamatan sekitarnya, menunda penyemaian benih cabai mereka.
"Saat ini kami memutuskan untuk menunda dulu penanaman cabai yang baru, agar tak terulang kejadian yang sama. Menurut petugas penyuluh pertanian, waktu tanam yang baru tak boleh mepet dengan kejadian serangan penyakit, agar perkembangan hama penyakitnya terputus," jelas Mawardi (40), petani cabai Desa Ayam Putih Kecamatan Buluspesantren Kebumen. (Dwi/krjogja.com)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
"Biasanya penyakit pada tanaman cabai hanya menyerang daun atau buahnya saja, seperti penyakit hama kres atau kutu putih. Tapi serangan penyakit kali ini benar-benar fatal, karena mematikan tanaman," ungkap Siswadi (45), petani cabai Desa Entak Kecamatan Ambal Kebumen, di lahannya, Jum'at (17/1/2014).
Matinya ribuan tanaman cabai yang terjadi sejak awal Januari 2014 itu menyebabkan aktifitas pemanenan cabai rawit maupun cabai keriting di Entak yang biasanya dilakukan setiap hari, kini terhenti. Dampak dari kondisi itu menurut Siswadi, selain pemilik lahan menderita kerugian jutaan rupiah dan kehilangan pemasukan dari penjualan cabai, buruh petik cabai pun kehilangan pekerjaan.
"Dari pemetikan cabai, para buruh pemetik itu biasanya mendapatkan upah Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per hari, tergantung banyaknya cabai yang mereka petik. Dalam keadaan tanaman cabai sehat, hasil pemetikan per hari bisa mencapai 5 kuintal," jelas Siswadi yang menanam cabai rawit dan keriting seluas 1 hektar.
Akibat serangan penyakit mematikan pada tanaman cabai itu menyebabkan para petani cabai di Kecamatan Ambal dan kecamatan-kecamatan sekitarnya, menunda penyemaian benih cabai mereka.
"Saat ini kami memutuskan untuk menunda dulu penanaman cabai yang baru, agar tak terulang kejadian yang sama. Menurut petugas penyuluh pertanian, waktu tanam yang baru tak boleh mepet dengan kejadian serangan penyakit, agar perkembangan hama penyakitnya terputus," jelas Mawardi (40), petani cabai Desa Ayam Putih Kecamatan Buluspesantren Kebumen. (Dwi/krjogja.com)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!