| Kesenian cepetan setiap pemainnya mengenakan topeng dari kayu pohon randu. (Foto: Sukmawan) |
Menurut sesepuh Paguyuban Budaya Pertapan Tunggal Randu Budaya di Dukuh Kebon, Desa Watulawang, Kecamatan Pejagian, Dawintana (70), pada awalnya cepetan sebagai upaya warga sipil mengusir penjajah dengan cara menakut-nakuti dengan topeng cepetan yang seram.
Setelah kemerdekaan, cepetan berkembang menjadi kesenian rakyat dalam arak-arakan selepas panen. Tariannya yang energik melambangkan kegembiraan, sekaligus ungkapan rasa syukur pada Yang Maha Kuasa.
Di zaman sekarang, Dawintana bersama Mustarja (66) sesepuh Pertapan Tunggal Paguyuban Prajineman Tri Tunggal di Dukuh Perkutukan, Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan, berusaha keras nguri-uri kesenian cepetan.
"Meski sebenarnya sangat berat karena saat ini sudah jarang ada yang mau nanggap cepetan," ujar Dawintana dan Mustarja. (Suk/krjogja.com)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
malah urung tau weruh lho... :-(
ردحذفsepertinya harus ada upaya untuk membangkitkan kesenian daerah, khususnya Kesenian aseli Kebumen.. Jangan sampai punah..
Memang di saat sekarang ini kebudayaan harus lebih lagi diadakan pertunjukan. Agar banyak orang yang ingin belaar dan membudayakannya.
ردحذفSaya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
Informasi Seputar Indonesia
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!