KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Tengah, Abhan Misbach merasa prihatin atas maraknya praktek politik uang yang terjadi menjelang Pemilu Legislatif 2014 mendatang. Bukan hanya dilakukan calon legislatif, tetapi calon kepala daerah juga lebih memprihatinkan lagi.
Berbagai cara dilakukan agar nafsunya mengejar kedudukan tercapai. “Pemilu adalah mencari kekuasaan. Apapun dilakukan untuk menarik simpati masyarakat. Namun, sayangnya dia tidak memberikan contoh berdemokrasi yang baik pada masyarakat,” ungkap Abhan Misbach di Hotel Candisari Karanganyar, belum lama ini.
Tujuan utama dari Pemilu Legislatif, Pilpres, maupun Pilkada adalah untuk dapat membawa kesejahteraan rakyat. Namun, yang terjadi yakni kesejahteraan bagi anggota dewan, maupun kepala daerah yang terpilih itu sendiri. Sedangkan masyarakat semakin sengsara.
Hal ini terjadi, menurut Abhan, karena wakil rakyat itu menggunakan jurus pendekar Wiro Sableng 212 untuk meraih kedudukannya. “Jadi maksudnya, 2 tahun pertama setelah terpilih, dia berpikir bagaimana caranya mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Kemudian 1 tahun untuk mencari keuntungan, dan 2 tahun terakhir sudah harus memutar otak mencari modal untuk nyalon kembali,” beber Abhan Misbach.
Dia mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan ucapan, terima uangnya tapi jangan pilih orangnya. “Betapa indahnya jika pemilu tidak ada money politik. Sebaliknya, masyarakat juga jangan aji mumpung lalu diterima semua,” tandasnya.
Dia mengajak masyarakat untuk belajar berdemokrasi santun, dan sama-sama mengawasi jika terjadi pelanggaran dalam Pemilu.(ori/radarbanyumas)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Berbagai cara dilakukan agar nafsunya mengejar kedudukan tercapai. “Pemilu adalah mencari kekuasaan. Apapun dilakukan untuk menarik simpati masyarakat. Namun, sayangnya dia tidak memberikan contoh berdemokrasi yang baik pada masyarakat,” ungkap Abhan Misbach di Hotel Candisari Karanganyar, belum lama ini.
Tujuan utama dari Pemilu Legislatif, Pilpres, maupun Pilkada adalah untuk dapat membawa kesejahteraan rakyat. Namun, yang terjadi yakni kesejahteraan bagi anggota dewan, maupun kepala daerah yang terpilih itu sendiri. Sedangkan masyarakat semakin sengsara.
Hal ini terjadi, menurut Abhan, karena wakil rakyat itu menggunakan jurus pendekar Wiro Sableng 212 untuk meraih kedudukannya. “Jadi maksudnya, 2 tahun pertama setelah terpilih, dia berpikir bagaimana caranya mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Kemudian 1 tahun untuk mencari keuntungan, dan 2 tahun terakhir sudah harus memutar otak mencari modal untuk nyalon kembali,” beber Abhan Misbach.
Dia mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan ucapan, terima uangnya tapi jangan pilih orangnya. “Betapa indahnya jika pemilu tidak ada money politik. Sebaliknya, masyarakat juga jangan aji mumpung lalu diterima semua,” tandasnya.
Dia mengajak masyarakat untuk belajar berdemokrasi santun, dan sama-sama mengawasi jika terjadi pelanggaran dalam Pemilu.(ori/radarbanyumas)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!