KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Dari hasil pemantauan Dewan Pengurus Cabang (DPC) Pemuda Tani kabupaten Kebumen, pendampingan yang dilakukan oleh pemkab kepada para petani dinilai kurang maksimal. Hal itu dinilai sebagai penyebab sering kurang maksimal atau gagalnya setiap program yang diberikan pemerintah kabupaten, provinsi maupun pusat kepada para petani.
“Hampir sekitar 70 persen program pertanian yang diberikan pemerintah kepada para petani hasilnya kurang maksimal dan tak sedikit pula yang mengalami kegagalan meski tidak gagal seratus persen,”ungkap Mochamad Badri selaku Divisi pengembangan sumber daya manusia (Sdm) petani DPC Pemuda Tani Kebumen ,Rabu (13/11) disekretariatnya.
Mochamad Badri juga mengungkapkan, bahwa beberapa tahun terakhir ini banyak sekali program pertanian yang diberikan kepada para petani , mulai dari pemberian bibit tanaman, bantuan pupuk hingga bantuan program pengembangan budidaya pertanian lainya. Namun tak sedikit dari program tersebut yang kurang berhasil dan bahkan para petani yang mendapat bantuan justru malah mengeluh.
Hal itu dikarenakan pendampingan kepada para petani masih sangatlah minim. Bahkan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian yang seharusnya mendampingi petani terkadang hanya mendampingi jika ada program saja. Sedangkan apabila tidak ada program, mereka enggan mendatangi petani untuk memantau atau memberikan penyuluhan dengan alasan tidak ada dana. Selama tidak ada program, para PPL cenderung hanya berada dikantor saja.
“Padahal sebagai PPL yang merupakan Pegawai Negri Sipil (PNS) maupun tenaga honorer, gaji yang mereka terima sudah termasuk untuk bekerja mendampingi petani semaksimal mungkin dan tidak hanya berdiam diri dikantor,”kata Mochamad Badri.
Selain itu dia juga berujar, apabila diminta memberikan penyuluhan kepada petani,PPL cenderung hanya menyanggupi untuk memberikan penyuluhan pada siang hari atau jam kerja saja. Apabila ada kelompok tani yang mengundang PPL untuk memberikan penyuluhan dengan jadwal malam hari , sebagian besar PPL tidak sanggup menghadiri. Padahal waktu senggang para petani adalah malam hari, karena disiang hari mereka bekerja disawah.
“Atas persoalan tersebut hendaknya segera dievaluasi, jika memang pemkab benar-benar menghendaki dan mendorong pengembangan pertanian di Kebumen,”tandasnya. (ben/bdg/radarbanyumas.co.id)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
“Hampir sekitar 70 persen program pertanian yang diberikan pemerintah kepada para petani hasilnya kurang maksimal dan tak sedikit pula yang mengalami kegagalan meski tidak gagal seratus persen,”ungkap Mochamad Badri selaku Divisi pengembangan sumber daya manusia (Sdm) petani DPC Pemuda Tani Kebumen ,Rabu (13/11) disekretariatnya.
Mochamad Badri juga mengungkapkan, bahwa beberapa tahun terakhir ini banyak sekali program pertanian yang diberikan kepada para petani , mulai dari pemberian bibit tanaman, bantuan pupuk hingga bantuan program pengembangan budidaya pertanian lainya. Namun tak sedikit dari program tersebut yang kurang berhasil dan bahkan para petani yang mendapat bantuan justru malah mengeluh.
Hal itu dikarenakan pendampingan kepada para petani masih sangatlah minim. Bahkan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian yang seharusnya mendampingi petani terkadang hanya mendampingi jika ada program saja. Sedangkan apabila tidak ada program, mereka enggan mendatangi petani untuk memantau atau memberikan penyuluhan dengan alasan tidak ada dana. Selama tidak ada program, para PPL cenderung hanya berada dikantor saja.
“Padahal sebagai PPL yang merupakan Pegawai Negri Sipil (PNS) maupun tenaga honorer, gaji yang mereka terima sudah termasuk untuk bekerja mendampingi petani semaksimal mungkin dan tidak hanya berdiam diri dikantor,”kata Mochamad Badri.
Selain itu dia juga berujar, apabila diminta memberikan penyuluhan kepada petani,PPL cenderung hanya menyanggupi untuk memberikan penyuluhan pada siang hari atau jam kerja saja. Apabila ada kelompok tani yang mengundang PPL untuk memberikan penyuluhan dengan jadwal malam hari , sebagian besar PPL tidak sanggup menghadiri. Padahal waktu senggang para petani adalah malam hari, karena disiang hari mereka bekerja disawah.
“Atas persoalan tersebut hendaknya segera dievaluasi, jika memang pemkab benar-benar menghendaki dan mendorong pengembangan pertanian di Kebumen,”tandasnya. (ben/bdg/radarbanyumas.co.id)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!