| Dengan menggunakan perahu para nelayan Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, Kebumen melarung sesaji ke laut selatan, Jumat (22/11).(suaramerdeka.com/Supriyanto) |
Ritual larung sesaji ke laut kidul tersebut sebagai puncak tradisi sedekah laut yang digelar nelayan setahun sekali tepatnya bulan Suro pada penanggalan Jawa.
Sebelum menggelar larungan, warga berkumpul di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) untuk menggelar doa bersama. Pembacaan tahlil dipimpin oleh tokoh setempat yakni KH Nur Shodik dan KH Khudori dari Desa Karanggadung. Selanjutnya, sesaji yang dimasukkan dalam sebuah replika rumah atau jolen diarak ke menuju pantai yang berjarak sekitar 500 meter darin TPI.
Meski digelar secara sederhana, sedekah laut di Desa Tegalretno cukup istimewa. Sebab, di sela-sela acara tersebut diselingi dengan pemberian santunan kepada 35 anak yatim dan piatu. Santuan diserahkan langsung ole Kepala Desa Tegalreno Supriyanto.
"Kegiatan ini sebagai ungkapan rasa syukur nelayan sekaligus memohon kepada Tuhan agar nelayan diberi keselamatan dan keberkahan saat mencari ikan di laut," ujar Kades Tegalreno Supriyanto kepada Suara Merdeka di sela-sela acara.
Sekretaris Kelompok Nelayan Mina Barokah Ahmad Daisin menjelaskan, tradisi sedekah laut berlangsung sejak 2004 saat mulai ada nelayan di pantai tersebut. Sedangkan TPI baru dibangun pada 2009. Populasi nelayan di Desa Tegalretnon relatif kecil dibandingkan dengan sejumlah TPI yang berada di Kecamatan Ayah.
"Kami memiliki 80 nelayan dengan jumlah perahu 18 unit," ujarnya seraya menyebutkan target retribusi ke APBD baru Rp 5 juta/tahun.
Lebih lanjut Ahmad Daisin, menyampaikan dalam setahun target nilai produksi bahari atau raman sebesar Rp 250 juta. Target tersebut cukup bisa terpenuhi karena pada bulan Oktober lalu produksi mencapai 5 ton dengan raman mencapai Rp 125 juta.
Kendala yang dihadapi nelayan, imbuh dia, ialah dalam setahun nelayan sering tidak bisa melaut karena ombak besar. Apalagi kondisi Pantai Tegalretno berhadapan langsung dengan laut lepas, membuat nelayan seringkali kesulitan masuk saat terjadi ombak besar.
"Selama Juni-Juli lalu nelayan mengalami masa paceklik. Mereka tidak bisa melaut akibat ombak besar dan angin kencang," imbuhnya seraya menyebutkan biaya sedekah laut merupakan swadaya nelayan.
( Supriyanto / CN31 / SMNetwork )
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!