Nelayan Rowo Larung Kambing Kendit

MIRIT (www.beritakebumen.info) - Sesaji kambing kendit dilengkapi jarit lurik, selendang warna hijau, serta jajanan pasar, dilarung ke laut Selatan dalam tradisi sedekah laut masyarakat nelayan Desa Rowo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen.

Semua sesaji dikemas menarik dalam jolen (miniatur rumah joglo). Prosesi yang tahun ini jatuh di hari Selasa Kliwon (12/11), diawali dari rumah kepala desa untuk kemudian diarak keliling desa.

Selanjutnya menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Rowo. Kemudian dengan menggunakan perahu, jolen dibawa menuju laut Selatan melalui Sungai Wawar. Puluhan perahu hias yang ditumpangi ratusan warga, mengarak hingga muara sungai.

Di muara sungai, dua sesepuh desa, Jo Dwiryo dan Wongso Wijoyo, memimpin doa bersama. Setelah itu, perahu pembawa jolen meluncur ke tengah laut untuk melarung sesaji dengan melibas ombak yang cukup tinggi.

"Tradisi itu sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan YME yang telah melimpahkan banyak rezeki selama setahun. Selain itu, untuk memohon agar dalam setahun ke depan, kembali diberi rezeki yang tidak kalah melimpah," jelas Kepala Desa Rowo, Sarno, seraya mengungkapkan, jolen yang berarti ojo kelalen (jangan lupa) kepada Tuhan YME. (Suk/krjogja.com)

30 Perahu Iringi Larung Sesaji di Pantai Rowo

Para nelayan di Desa Rowo, Kecamatan Mirit, Kebumen, menggelar tradisi sedekah laut, Selasa (12/11). Tradisi yang digelar setiap tahun yakni Selasa atau Jumat Kliwon pertama bulan Suro dalam penanggalan Jawa itu ditandai dengan larung sesaji ke pantai selatan.

Sesaji yang dilarung antara lain kepala kambing yang dibungkus kain putih, jajanan pasar, kembang setaman, tumpeng, tujuh macam pisang, tujuh macam buah, ageman sak pengadek serta alat kecantikan perempuan. Sebagian warga masih meyakini sesaji itu merupakan kesukaan ratu laut kidul, khususnya ageman yang terdiri atas pakaian batik, konde, serta alat rias kecantikan.

Sebelum dilarung, rumah sesaji yang sering disebut jolen itu diarak dari rumah kepala desa setempat melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Rowo. Sesaji itu selanjutnya diarak dengan diiringi 30 perahu nelayan yang ditumpangi keluarganya menyusuri Sungai Wawar menuju pantai selatan yang berjarak sekitar 3 kilometer.

Ikut mengarak sesaji, Camat Mirit Ngaisom SSos, Kapolsek Miri AKP Slamet Aluhadin dan Kepala Desa Woro Sarno dan sejumlah tokoh masyarakat setempat. Setiba di pantai, sesepuh nelayan Jo Dwiryo (80) didampingi Wongso Wijoyo (65) melaksanakan ritual bakar kemenyan dan membaca doa serta menaburkan bunga ke pantai. Kemudian sesaji yang sudah didoakan dilarung ke tengah lautan.

"Sedekah laut ini sebagai ucapan syukur para nelayan atas apa yang telah didapat selama setahun ini. Selain itu juga untuk memohon agar nelayan diberikan keselamatan saat mencari ikan di laut," ujar Wongso Wijoyo di sela-sela larung sesaji.

Kepala Desa Rowo Sarno menambahkan, dalam rangkaian sedekah laut tahun ini digelar sejumlah acara. Sehari sebelumnya telah digelar acara kesenian tradisional tayub. Usai sedekah laut dilaksanakan kenduren yang dilanjutkan hiburan orgen tunggal. Malam harinya digelar pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Basuki Hendro Prayitno dari Kecamatan Ambal.

Sarno yang belum lama ini terpilih kembali untuk yang kedua kali itu menyebutkan, tradisi sedekah laut yang selalu dilaksanakan tiap tahun itu sudah dijadikan aset wisata desa. Tradisi itu sekaligus dapat menunjang pantai Rowo menjadi objek wisata.

"Kami berharap acara budaya itu ke depan menjadi penunjang pantai sebagai objek wisata yang menarik," ujarnya.
( Supriyanto / CN31 / SMNetwork / suaramerdeka.com )


=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Previous Post Next Post