KARANGGAYAM (www.beritakebumen.info) - Banyaknya program pembangunan yang dicanangkan Pemkab Kebumen ternyata belum menyentuh seluruh wilayah. Pasalnya, hingga saat ini masih terdapat sejumlah wilayah yang terisolir dari proses pembangunan tersebut. Sedikitnya terdapat tiga pedukuhan terpencil di Kabupaten Kebumen kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga akses sosial, baik pelayanan kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi sulit didapat warga.
Ketua Forum Komunikasi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kabupaten Kebumen, Sukamsi SH MH mengatakan, tiga pedukuhan terpencil itu semuanya terletak di wilayah Kebumen bagian utara. Yakni, Dukuh Plipitan di Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam, Dukuh Simulek di Desa Somagede Kecamatan Sempor, dan Dukuh Klesem di Desa Pakuran Kecamatan Buayan.
Menurut Sukamsi, warga pedukuhan yang sulit dijangkau itu juga mengalami kesulitan komunikasi karena tidak ada sinyal telepon seluler. Informasi dari dunia luar juga sangat minim karena tidak ada saluran televisi yang bisa ditangkap kecuali dengan antena parabola. Letaknya yang sulit dijangkau akibat sarana dan prasarana fisik seperti jalan yang tidak memadai, membuat warga di tiga pedukuhan itu juga harus membeli kebutuhan pokok dengan harga mahal.
“Kasus di Plipitan, warga buang air besar sembarangan karena tidak mampu membangun MCK akibat harga semen lebih dari Rp 100 ribu per sak,” ungkap Sukamsi kepada sejumlah wartawan, belum lama ini.
Warga Plipitan, Simulek, dan Klesem, lanjut Sukamsi, dapat dikategorikan sebagai komunitas adat terpencil. Warganya tergolong penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) karena terpencil dengan akses sosial yang masih sangat terbatas.
Dia menambahkan, Dukuh Plipitan wilayahnya dikelilingi oleh hutan negara (enclave). Keterbatasan di Dukuh Plipitan, mengakibatkan belum satu pun warganya yang mengenyam pendidikan hingga SLTA.
Di Dukuh Simulek, lebih memprihatinkan. Di Dukuh yang berada di Desa Somagede Kecamatan Sempor itu, tidak ada warganya yang tamat SD. Selain itu, jalan menuju pedukuhan yang dihuni 18 kepala keluarga (KK) itu, hanya jalan setapak yang tidak dapat untuk simpangan sepeda motor. Bahkan jika hujan turun, sama sekali tidak dapat dilalui sepeda motor. “Simulek juga belum terjangkau lisrik. Warga menikmati listrik dengan cara mengulur kabel yang panjangnya sampai empat kilometer,” ujar Sukamsi.
Hal yang sama juga terjadi di Dukuh Klesem yang terletak di tengah hutan negara. Ditempat ini, jika warga ingin menikmati aliran listrik mengharuskan mereka mengulur kabel yang sangat panjang. Selain minimnya sarana dan prasarana, warga Klesem masih harus menghadapi kesulitan air bersih.
Terpisah, Bupati Kebumen H Buyar Winarso SE menyatakan, Pemkab tidak menutup keberadaan wilayah-wilayah yang masih tertinggal. Pihaknya akan terus menggali potensi daerah. Namun kebijakan pembangunan itu tetap mendasari pada rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan rencana pembangunan dalam jangka panjang dan menengah daerah (RPJMD).
Bupati berkomitmen memperhatikan wilayah pedesaan dan pinggiran. Pada saatnya daerah pinggiran selatan dan pinggiran utara Kebumen akan dibenahi bertahan dengan mendasarkan kepada pemerataan pembangunan dan kuota 26 kecamatan tersebut. “Tentu saja akan ada pusat-pusat pertumbuhan disetiap wilayah dan itu akan kita garap sesuai koridor aturan dan kemampuan keuangan yang ada,” kata Bupati yang didampingi Sekda H Adi Pandoyo SH MSi, Kepala Bapermades Moh Amirudin SIP, Kepala BPBD dr HA Dwi Budi Satrio, dan Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Kebumen Drs Drajat Triwibowo.
Pada kesempatan itu, bupati juga meminta seluruh pemerintahan desa dan kecamatan agar melaporkan kondisi wilayahnya. “Kepala desa harusnya melaporkan kepada kami. Komunikasi itu penting. Terlebih ini masalah bersama yang dicarikan solusi bersama,” tandas bupati. (ori/radarbanyumas)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Ketua Forum Komunikasi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kabupaten Kebumen, Sukamsi SH MH mengatakan, tiga pedukuhan terpencil itu semuanya terletak di wilayah Kebumen bagian utara. Yakni, Dukuh Plipitan di Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam, Dukuh Simulek di Desa Somagede Kecamatan Sempor, dan Dukuh Klesem di Desa Pakuran Kecamatan Buayan.
Menurut Sukamsi, warga pedukuhan yang sulit dijangkau itu juga mengalami kesulitan komunikasi karena tidak ada sinyal telepon seluler. Informasi dari dunia luar juga sangat minim karena tidak ada saluran televisi yang bisa ditangkap kecuali dengan antena parabola. Letaknya yang sulit dijangkau akibat sarana dan prasarana fisik seperti jalan yang tidak memadai, membuat warga di tiga pedukuhan itu juga harus membeli kebutuhan pokok dengan harga mahal.
“Kasus di Plipitan, warga buang air besar sembarangan karena tidak mampu membangun MCK akibat harga semen lebih dari Rp 100 ribu per sak,” ungkap Sukamsi kepada sejumlah wartawan, belum lama ini.
Warga Plipitan, Simulek, dan Klesem, lanjut Sukamsi, dapat dikategorikan sebagai komunitas adat terpencil. Warganya tergolong penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) karena terpencil dengan akses sosial yang masih sangat terbatas.
Dia menambahkan, Dukuh Plipitan wilayahnya dikelilingi oleh hutan negara (enclave). Keterbatasan di Dukuh Plipitan, mengakibatkan belum satu pun warganya yang mengenyam pendidikan hingga SLTA.
Di Dukuh Simulek, lebih memprihatinkan. Di Dukuh yang berada di Desa Somagede Kecamatan Sempor itu, tidak ada warganya yang tamat SD. Selain itu, jalan menuju pedukuhan yang dihuni 18 kepala keluarga (KK) itu, hanya jalan setapak yang tidak dapat untuk simpangan sepeda motor. Bahkan jika hujan turun, sama sekali tidak dapat dilalui sepeda motor. “Simulek juga belum terjangkau lisrik. Warga menikmati listrik dengan cara mengulur kabel yang panjangnya sampai empat kilometer,” ujar Sukamsi.
Hal yang sama juga terjadi di Dukuh Klesem yang terletak di tengah hutan negara. Ditempat ini, jika warga ingin menikmati aliran listrik mengharuskan mereka mengulur kabel yang sangat panjang. Selain minimnya sarana dan prasarana, warga Klesem masih harus menghadapi kesulitan air bersih.
Terpisah, Bupati Kebumen H Buyar Winarso SE menyatakan, Pemkab tidak menutup keberadaan wilayah-wilayah yang masih tertinggal. Pihaknya akan terus menggali potensi daerah. Namun kebijakan pembangunan itu tetap mendasari pada rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan rencana pembangunan dalam jangka panjang dan menengah daerah (RPJMD).
Bupati berkomitmen memperhatikan wilayah pedesaan dan pinggiran. Pada saatnya daerah pinggiran selatan dan pinggiran utara Kebumen akan dibenahi bertahan dengan mendasarkan kepada pemerataan pembangunan dan kuota 26 kecamatan tersebut. “Tentu saja akan ada pusat-pusat pertumbuhan disetiap wilayah dan itu akan kita garap sesuai koridor aturan dan kemampuan keuangan yang ada,” kata Bupati yang didampingi Sekda H Adi Pandoyo SH MSi, Kepala Bapermades Moh Amirudin SIP, Kepala BPBD dr HA Dwi Budi Satrio, dan Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Kebumen Drs Drajat Triwibowo.
Pada kesempatan itu, bupati juga meminta seluruh pemerintahan desa dan kecamatan agar melaporkan kondisi wilayahnya. “Kepala desa harusnya melaporkan kepada kami. Komunikasi itu penting. Terlebih ini masalah bersama yang dicarikan solusi bersama,” tandas bupati. (ori/radarbanyumas)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================
Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!