Lahan Kritis di Kebumen Capai 36.033 Ha

KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Berdasarkan data terakhir dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo di Yogyakarta 2011, jumlah kawasan lahan kritis di Kebumen cukup tinggi mencapai 36.033,986 hektare. Jumlah tersebut terbagi dalam tiga kategori, yakni lahan agak kritis mencapai 26.930,859 hektare, lahan kritis mencapai 8.333,381 hektare dan lahan sangat kritis mencapai 769,746 hektare.

Sementara itu, lahan potensial kritis mencapai 55.133,527 hektare dan lahan tidak kritis mencapai 42.539,412 hektare. Tingginya jumlah lahan kritis tersebut berdampak pada matinya sumber mata air yang menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar. Pepohonan di hutan itu memiliki fungsi sebagai kawasan tangkapan air untuk menyimpan cadangan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Akibatnya, pada musim kemarau seperti sekarang ini sekitar 83 desa mengalami kesulitan air bersih, utamanya di wilayah pegunungan. Untuk mengatasi masalah tersebut BPBD Kebumen menyiapkan anggaran untuk pengedroban bantuan air bersih sebanyak 2.160 tangki.

Kasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kebumen, Amin Wahyudi SHut MIL mengatakan, jumlah lahan kritis tersebut terdiri atas kawasan hutan dan Areal Penggunaan Lain (APL). Di Kebumen terdapat empat Daerah Aliran Sungai (DAS) besar yakni DAS Telomoyo, DAS Ijo, DAS Wawar Wedono dan Luk Ulo.

Sementara untuk DAS yang relatif kecil yakni DAS Jintung, Watugumulung, Wawar Wedono 1, Wawar Wedono 2 dan DAS Serayu. "Upaya penanganan lahan kritis terus diupayakan untuk memperbaiki ekosistem alam yang ada," katanya saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (19/9).

Dia menjelaskan, perlu diketahui bahwa lahan kritis tersebut disebabkan dua faktor, yakni faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam adalah rendahnya kesuburan tanah atau tipisnya lapisan tanah di kawasan hutan atau pegunungan, sehingga menyilitkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang.

Namun, faktor itu lebih mudah diatasi dengan pemilihan jenis tanaman yang cocok di lahan tandus, sedangkan faktor manusia adalah kerusakan alam yang disebabkan oleh ulah manusia. "Faktor kedua ini menjadi faktor dominan kerusakan lahan di Kebumen," ungkapnya.

Penyuluh Kehutanan Ahli pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kebumen, Mahfud Munajat SHut MIL mengatakan, sejauh ini banyak masyarakat memanfaatkan lahan hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menanam tanaman semusim, seperti ketela dan jagung. Akibatnya, kawasan tangkapan air menjadi berkurang. "Butuh proses penyadaran pada masyarakat tentang pentingnya menanam pohon di hutan," katanya.
( Rinto Hariyadi / CN26 / SMNetwork / suaramerdeka.com)



=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |
=============================================================

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

أحدث أقدم