| Tidak mau tanaman padinya mati sia-sia, sebagian petani terpaksa menyedot air dari sumur bor. (Foto: Sukmawan/kr) |
Tidak mau tanaman padinya mati sia-sia, sebagian petani terpaksa menyedot air dari sumur bor. Untuk lahan seluas 100 ubin, sekali sedot dengan mesin pompa, membutuhkan biaya Rp 80.000.
"Saya sudah dua kali menyedot air. Jika air irigasi tidak juga mengalir, biaya tanam bisa dipastikan tidak sebanding dengan hasil panen karena kalau sampai panen, bisa enam hingga delapan kali sedot," ujar Supriyono (50) petani di Desa Klirong, seraya berharap air irigasi segera mengalir untuk menekan kerugian yang lebih besar.
Menurutnya, sejak awal tanam, kebutuhan air hanya berasal dari air hujan. Padahal lahan sawah di desanya termasuk lahan dengan irigasi teknis. "Namun karena air irigasi tidak pernah mengalir, ditambah hujannya semakin jarang, pada akhirnya lahan jadi kering," jelasnya.
Di Desa Klirong ada sekitar 30 hektare lahan padi yang terancam mati akibat air irigasi tidak mengalir. Petani juga harus menghadapi hama tikus yang merusak tanaman hingga pertumbuhan padi menjadi semakin tidak maksimal.
Nasib yang sama dialami petani Desa Klegenwonosari. Bagi petani yang tidak memiliki modal untuk menyedot air, dengan berat hati membiarkan lahannya kering dan ditumbuhi rumput liar. "Kalaupun ada hujan, atau air irigasi kemudian mengalir, tetap saja tidak bisa panen maksimal karena tanaman terlanjur kering," kata Suratno (40) petani Desa Klegenwonosari, Kamis (16/5/2013). (Suk)
=============================================================
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | TWITTER |
BERITA KECAMATAN KLIRONG LAINNYA: