Simulasi Pengamanan Pilgub, Unjuk Rasa di KPU Kebumen Ricuh

KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Hari Pemungutan Suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah telah tiba, seperti yang telah ditentukan Ketua KPPS TPS 03 Kebumen mulai mengecek bilik suara dengan didampingi oleh 3 orang Saksi dari masing-masing pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng. Selesai mengecek kelayakan bilik suara, Ketua KPPS membuka kotak suara, mengeluarkan dan menghitung isi Surat Suara. Tepat pukul 07.00 wib, Ketua KPPS menyatakan pemungutan suara dimulai.



Satu persatu pemilih datang, melakukan pendaftaran dan menunggu giliran pencoblosan di tempat duduk yang telah disediakan didalam TPS 03. Kurang lebih pukul 11.15 wib, datang seorang pemuda yang hendak menggunakan hak pilihnya, namun saat diminta untuk menunjukan Surat Undangan Pencoblosan, pemuda itu menjawab bahwa dia tidak menerima Surat Undangan. Petugas KPPS yang mengecek dalam Daftar Pemilih Tetap yang ada di TPS pun tidak dapat menemukan nama pemuda itu. Saat Ketua KPPS meminta pemuda itu untuk menunjukan KTP atau Kartu Keluarga yang bisa digunakan sebagai bukti kewarganegaraan nya, pemuda itu berkilah bahwa KTP nya hilang. Sesuai dengan peraturan yang ada, Ketua KPPS tetap tidak mengijinkan pemuda itu menggunakan hak pilihnya, meskipun beberapa warga yang masih menunggu giliran pencoblosan mengenali pemuda itu sebagai warga sekitar TPS. Meski sambil bersungut-sungut, pemuda itu pergi dari TPS dan kembali ke rumahnya tanpa ada insiden.



Tampak Mobil dan Sepeda Motor Patroli dari Polres Kebumen, Satpol PP yang berisi personil gabungan POLRI, TNI dan Satpol PP sesekali melintas, berpatroli dari satu TPS ke TPS yang lain. “Situasi kondusif” demikian laporan Bripka Solikhin kepada Posko Operasi Mantap Praja – 13 Polres Kebumen melalui pesawat HT.

Jam di TPS 03 terus bergulir, waktu telah menunjukan pukul 13.00 wib dan Ketua KPPS pun mengumumkan bahwa waktu pemungutan suara dinyatakan telah usai. Beberapa menit kemudian seorang laki-laki bertampang sangar datang ke TPS 03, dengan santainya lelaki itu menunjukan Surat Undangan Pencoblosan kepada Petugas Pendaftaran yang masih duduk dibelakang Meja Pendaftaran. Dengan ramah Petugas Pendaftaran menolak seraya berucap “Mohon maaf, Pak. Waktu pemungutan sudah berakhir pukul 13.00 tadi, jadi anda tidak bisa melakukan pencoblosan.” Seketika wajah lelaki itu memerah karena menahan marah, sambil menunjukan jam tangan nya yang masih menunjukan pukul 12.50 wib lelaki itu berseru “Tapi jam saya masih jam 1 kurang !” Melihat gelagat yang kurang baik, Ketua KPPS dan Petugas Linmas yang berjaga pun menghampiri, memberikan penjelasan bahwa jam yang digunakan adalah jam yang ada di TPS, bukan jam yang ada di masing-masing pemilih. Mendengar penjelasan Ketua KPPS, lelaki bertampang sangar itupun pergi meninggalkan TPS 03 sambil menggerutu yang tidak jelas.

Ketua KPPS pun melanjutkan pekerjaannya, membuka kotak suara untuk mulai melakukan penghitungan. Sesuai ketentuan, pada saat penghitungan suara, Surat Suara yang telah dicoblos wajib ditunjukan kepada saksi-saksi dari masing masing pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Saat itulah terjadi perselisihan pendapat, antara seorang saksi dengan Ketua KPPS. Saksi pasangan “ASiK” itu berpendapat bahwa lubang hasil coblosan itu sah, namun Ketua KPPS bersikeras bahwa surat suara itu tidak sah karena lubang coblosan berada di luar kotak gambar, meski jaraknya lubangnya hanya sekitar 5 mm dari tepi garis kotak gambar. Tidak bisa menahan emosi, Saksi dari pasangan “ASiK” itu berdiri dan menghampiri Ketua KPPS hendak merebut Surat Suara yang ada ditangannya. Seorang Petugas Keamanan TPS dengan sigap merangkul dan mengamankan Saksi itu dan Petugas Keamanan lainnya menghubungi Petugas Personil POLRI Pengamanan TPS melalui handphone miliknya. Tidak berapa lama, 2 orang Personil POLRI Pam TPS segera membawa Saksi yang mengamuk itu keluar dari TPS.

Setelah perhitungan suara di TPS 03 selesai, Ketua KPPS dibantu Anggota KPPS memasukan Surat Suara dan kelengkapan administasi lainnya kedalam kotak suara untuk dibawa ke PPS yang bertempat di Kantor Kepala Desa. 2 orang Personil POLRI Pam TPS mengawal perjalanan Kotak Suara itu menuju ke PPS. Ternyata keributan di TPS 03 saat penghitungan suara tidak selesai begitu saja, Saksi pasangan “ASiK” tetap beranggapan bahwa perhitungan suara di TPS 03 tidak sah, dan menuntut untuk dilakukan penghitungan ulang. Bersama dengan beberapa simpatisan pendukung pasangan calon “ASiK” lainnya, Saksi yang diketahui bernama Bambang itu menghadang perjalanan Kotak Suara dengan maksud untuk merebut kotak suara dari tangan Anggota KPPS 03. Namun aksi itu berhasil digagalkan oleh Personil POLRI Pam TPS setelah mendapat bantuan dari Personil Gabungan Polri, TNI dan Satpol PP yang datang ke tempat kejadian perkara setelah mendengar informasi dari Pesawat HT yang ada di mobil patroli. 2 orang pelaku penghadanganpun digelandang ke Polres Kebumen untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kabar peristiwa yang berawal dari TPS 03 dan berakhir dengan penghadangan Kotak Suara yang berhasil digagalkan oleh kesigapan Personil Polri dan TNI serta Satpol PP yang terlibat dalam Operasi Mantap Praja – 13 itu berkembang luas di masyarakat terutama massa pendukung Pasangan Calon “ASiK”. Mereka pun berniat untuk melakukan aksi protes ke Kantor KPU Kebumen, menuntut diulangnya pemungutan suara di Kebumen karena dianggap tidak sah. Pada hari yang telah ditentukan, puluhan massa mendatangi KPU Kebumen, Kapolsek Kebumen AKP Mawakhir, S.H. yang bertugas melakukan pengamanan di Gedung KPU bersama dengan Dalmas Kerangka yang terdiri dari gabungan Staf Polres Kebumen dan Staf Polsek Kebumen melakukan penghadangan dan negosiasi awal kepada para demonstran. Sedangkan Tim Penanggulangan Pertama TNI Kodim 0709 Kebumen bersenjata lengkap yang mendapat perintah untuk mem-back up Polri mendapat tugas untuk mengamankan di dalam Kantor KPU, untuk mengantisipasi hal-hal yang terburuk yang mungkin terjadi.



Sesuai hasil negosiasi, 2 orang yang ditunjuk sebagai perwakilan demonstran masuk ke dalam Kantor KPU untuk menyampaikan pendapat mereka langsung kepada Ketua KPU Kebumen. Hasilnya, Ketua KPU Kebumen tetap menolak tuntutan para pendemo untuk melakukan Pemungutan suara ulang. Tidak puas dengan jawaban Ketua KPU, kedua orang perwakilan pendemo tadi keluar Kantor KPU dengan berteriak-teriak memprovokasi demonstran yang lain. Teriknya sinar matahari seolah menambah panasnya suasana siang itu di depan Kantor KPU Kebumen. Sebagian massa mulai beringas, berusaha memaksa masuk kedalam Kantor KPU Kebumen, aksi saling dorong dengan Peleton Dalmas Kerangka Polres Kebumen pun terjadi. Melihat perkembangan situasi yang kurang menguntungkan, AKP Mawakhir, S.H. segera menghubungi Posko Operasi Mantap Praja 13 Polres Kebumen. Kapolres Kebumen AKBP Heru Trisasono, S.I.K., M.Si. selaku KA OPS RES Operasi Mantap Praja 13 Polres Kebumen segera memerintahkan Kabag OPs Polres Kebumen Kompol Edi Subroto, S.H. selaku Ka Rendal Ops Res untuk mengirim Peleton Dalmas Rayon dan Peleton Dalmas Inti ke Gedung KPU Kebumen, guna mem-back up Peleton Dalmas Kerangka.

Dipimpin oleh Kasat Sabhara AKP Syafril, S.H. Peleton Dalmas Rayon membentuk Formasi Bersaf, membentuk benteng untuk mencegah masuknya para pengunjuk rasa ke dalam Kantor KPU Kebumen. Upaya negosiasi kedua pun dilakukan oleh Peleton Negosiator Polwan pimpinan Ipda Maheni, namun demonstran tetap pada pada kemauannya, bahkan bertambah beringas maka Peleton Negosiator ditarik dari lini terdepan. Saling dorong kembali terjadi, rupanya massa yang semula berjumlah puluhan bertambah karena simpatisan pendukung Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang mendengar adanya unjuk rasa berdatangan dari segala penjuru Kebumen. Melihat Peleton Dalmas Awal yang hanya melengkapi diri dengan Tali Dalmas semakin terdesak, Komandan Kompi Dalmas memerintahkan kepada Peleton Dalmas Inti untuk bergerak ke depan menggantikan posisi Dalmas Awal yang mulai terdesak. Meski posisinya sudah digantikan oleh Peleton Dalmas Inti, tugas Peleton Dalmas Awal tidak berakhir begitu saja, setelah melangkapi diri dengan tameng dan tongkat, Peleton Dalmas Awal langsung bergerak membentuk formasi disebelah kanan dan kiri Peleton Dalmas Inti, sedangkan 2 anggota Unit Satwa Sat Sabhara dan 1 Regu Unit Ranmor stand by di belakang Kompi Dalmas.

Suasana makin ricuh, demonstran mulai bertindak anarkhis, berbagai benda yang berada disekitar lokasi unjuk rasa digunakan sebagai alat untuk menyerang Pasukan Dalmas yang dianggap menghalangi niat mereka. Komandan Kompi Dalmas segera memberikan himbauan menggunakan Public Addresser Mobile supaya massa tidak bertindak anarkhis dan menyampaikan aspirasinya dengan baik. Bukan mereda, aksi demonstran semakin tak terkendali. Komandan Kompi Dalmas kemudian memerintahkan kepada Unit Satwa dan Unit Ranmor untuk bergerak maju memecah konsentrasi massa. Massa yang tidak menduga akan munculnya 2 ekor anjing dan 10 sepeda motor Trail yang meraung-raung dari belakang barisan Kompi Dalmas tercerai berai lari menjauh dari hadapan Kompi Dalmas. Seorang demonstran yang nekat maju untuk menerobos barikade Unit Ranmor bernasib sial, demonstran itu pingsan terkena batu yang dilemparkan oleh sesama demonstran ke arah Unit Ranmor. Komandan Kompi Dalmas yang melihat ada seseorang yang tergeletak pingsan, memerintahkan kepada Unit Medis untuk melakukan evakuasi. Melihat hal itu, para koordinator pengunjuk rasa kembali memprovokasi rekan-rekannya, mengatakan bahwa seorang temannya telah mati dipukul polisi. Mendengar kabar itu, demonstran yang lain pun kembali tersulut emosinya dan kembali melakukan penyerangan kepada Petugas Polri. Sekali lagi Komandan Kompi Dalmas memerintahkan pasukannya untuk maju mendorong para pengunjuk rasa.



Unit-unit Intelejen dan Reskrim yang sejak awal ditugaskan untuk melakukan penyusupan kedalam rombongan demonstran telah menentukan siapa orang-orang yang menjadi provokator dalam aksi anarkhis tersebut dan segera melakukan penangkapan sebelum aksi unjuk rasa berkembang tak terkendali. Karena marah mengetahui ada teman-temanya yang ditangkap, pengunjuk rasa semakin brutal, penyerangan kepada Petugas semakin meningkat, aksi pembakaran ban dilakukan tetapi segera dipadamkan dengan menggunakan alat pemadam kebakaran milik Kompi Dalmas. Seorang anggota Kompi Dalmas yang terpancing emosinya tidak bisa mengendalikan diri, berlari sendirian ke arah pengunjuk rasa, namun dengan sigap 2 orang Unit Provoost Polres Kebumen berlari mengejarnya dan menarik personil itu untuk kembali ke pasukannya. Tidak mau pertahanan pasukannya jebol, Komandan Kompi Dalmas memerintahkan kepada Unit Water Canon untuk menyemprot massa menggunakan air bertekanan tinggi, efeknya massa pun tercerai berai. Kompi Dalmas pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk terus mendorong sekaligus memecah belah massa serta terus memberikan himbauan supaya pengunjuk rasa membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Menyadari upayanya tidak berhasil, massa pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing.

Setelah massa membubarkan diri, Komandan Kompi Dalmas melakukan konsolidasi pasukan untuk melakukan pengecekan terhadap jumlah anggota dan segala perlengkapannya.Satuan-satuan Mobil Patroli dikerahkan untuk melakukan penyisiran untuk memastikan massa telah membubarkan diri, tidak lupa himbauan-himbauan diberikan melalui pengeras suara yang ada disetiap mobil patroli agar pengunjuk rasa pulang ke rumah masing-masing.

Bersyukur, kejadian diatas adalah rangkaian cerita pada Simulasi Pengamanan Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng tahun 2013, yang dilaksanakan oleh Polres Kebumen pada hari Rabu (8/5) di Alun-alun Kebumen. Simulasi yang juga melibatkan TNI, Satpol PP dan Anggota KPPS itu bertujuan untuk menunjukan kepada para pemangku kepentingan bahwa Polres Kebumen beserta seluruh jajaran dan perkuatanya siap mengamankan seluruh rangkaian Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah tahun 2013. Sebanyak 650 personil Polres Kebumen akan diterjunkan untuk melakukan pengamanan langsung di 2.464 TPS seluruh wilayah Kabupaten Kebumen pada saat Masa Tenang, Pemungutan dan Perhitungan Suara yang direncanakan akan berlangsung pada tanggal 25-26 Mei 2013 mendatang.

Kapolres Kebumen AKBP Heru Trisasono, S.I.K., M.Si melalui Kasubbag Humas Polres Kebumen mengatakan “Ada tiga sasaran utama pengamanan kami, yaitu orang-orang yang menjadi Penyelenggara dan Pengawas Pemilu, para Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah beserta Tim Suksesnya dan warga masyarakat yang hendak menggunakan hak pilihnya. Yang kedua adalah seluruh barang-barang atau logistik pemilu termasuk pendistribusianya, dan ketiga adalah tempat tempat dimana para Penyelenggara dan Pengawas Pemilu melakukan aktifitasnya, Tempat Pemungutan Suara, tempat penyimpanan logistik pemilu dan tempat tempat yang digunakan oleh para Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah beserta Tim Suksesnya saat melakukan kampanye.”

Ketua KPU Kebumen Paulus Widiyantoro, S.E menyambut baik acara Simulasi Pengamanan Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng 2013 yang diselenggarakan oleh Polres Kebumen, “Kami merasa mantap dalam bekerja dan menyelenggarakan Pilgub Jateng 2013 setelah melihat kesiapan back up keamanan dari Polri, TNI dan Linmas” tuturnya. Wakil Bupati Kebumen, Ketua DPRD Kebumen, FKPD lainnya berkenan hadir untuk menyaksikan acara Simulasi Pengamanan Pilgub 2013 yang berakhir pada kurang lebih pukul 10.15 wib tersebut. (sumber/humas/polreskebumen.com)

=============================================================
KOMENTAR PEMBACA | KOMENTAR FACEBOOKER


=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | TWITTER |

BERITA PILGUB JATENG LAINNYA:
Previous Post Next Post