Pasca Penyergapan Teroris, Warga Masih Trauma

KUTOWINANGUN (www.beritakebumen.info) - Trauma pasca penyergapan tujuh terduga teroris di Dusun Kembaran Desa Ungaran Kecamatan Kutowinangun yang terjadi lima hari lalu, masih membanyangi warga. Apalagi bagi mereka yang bermukim di dekat rumah kontrakan yang terletak di RT 01 RW 02 desa setempat, sangat merasakan suasana mencekam saat terjadinya penyergapan teroris Densus 88 Antiteror pada Rabu (8/5) malam hingga Kamis (9/5) lalu.

"Pas tembak-tembakan, banyak polisi sembunyi disini (didepan rumahnya). Saya tidak bisa ke mana-mana, sembunyi di rumah," kata Suratmi (81) ditemui di rumahnya tak jauh dari rumah kontrakan teroris, Selasa (14/5).

Suratmi mengaku baru kali itu menyaksikan langsung polisi baku tembak dengan terduga teroris. Selama ini, dia hanya melihat polisi menembak di film-film.

"Secara pribadi, saya sendiri masih trauma dengan penyergapan teroris oleh Densus 88 kemarin. Sampai sekarang juga masih takut kalau ada suara yang ngageti," ujar Suratmi.

Suratmi saat terjadinya penggerebekan, dia bersama keluarga besarnya berada didalam rumah. Meski banyak aparat di depan rumahnya, dia sangat merasakan ketakutan. Dia takut terkena terjarangan peluru nyasar.

"Pokoknya setiap mendengar tembakan, saya langsung tiarap. Berkali-kali sampai kaki saya sakit sampai sekarang," kata nenek yang masih segar bugar sembari memperlihatkan lengan tangan dan kaki yang lebam akibat berkali-kali tiarap.

Pantauan di lapangan, hampir sepekan pasca penyergapan bekas rumah kontrakan teroris, suasana Desa Ungaran berangsur normal. Namun Sunarti masih bertahan di rumah, dia masih takut keluar rumah. Terlebih, karena luka yang dia alami di bagian tangan dan kaki belum pulih.

"Saya masih takut pergi kemana-mana karena saya masih trauma dengan kejadian kemarin,"ucapnya lirih.

Sementara itu, Kepala Urusan Umum desa setempat Yudi Waluyo mengakui ada banyak warga Desa Ungaran masih mengalami trauma pasca penyergapan teroris pekan lalu, khususnya warga yang tinggal dekat dengan lokasi penyergapan.

"Kita telah mendapat banyak keluhan dari warga setempat terkait insiden tembak menembak dalam proses penangkapan anggota teroris," kata Yudi Waluyo saat dihubungi.

Menurutnya, keberadaan teroris akan mengundang keberadaan polisi. Penyergapan tersebut jelas menimbulkan trauma bagi warga. Masyarakat sangat tidak akrab dengan pemandangan seperti itu. Terlebih, kata dia, insiden baku tembak dan rentetan ledakan bom yang terjadi dalam waktu relatif lama.

"Kita saja baru pertama kali melihat kejadian seperti itu, apalagi petani yang biasa hidup dalam kedamaian ketentraman, jauh dari kekacauan," jelasnya.

Yudi mengaku, pihaknya berupaya untuk mengembalikan perasaan trauma yang menimpa warganya dan berharap agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi didesanya.

Keberadaan tujuh terduga teroris di Desa Ungaran, membuat desa ini mendadak menjadi terkenal dan menjadi perhatian masyarakat. Kekacauan tersebut juga telah mengundang ribuan warga luar daerah datang untuk menonton baku tembak mupun rumah kontrakan milik Hj Maryatun. Sampai kemarin, Selasa (14/5) masih mengalir orang yang ingin melihat bekas-bekas penyergapan di rumah bekas kontrakan tujuh terduga teroris.

Seperti diwartakan, sejumlah anggota Densus 88 Mabes Polri melakukan penyergapan tujuh terduga teroris yang disertai baku tembak di Dusun Kembaran RT 01 RW 02 Desa Ungaran Kecamatan Kutowinangun, Rabu (8/5) malam hingga Kamis (9/5).(ori/radarbanyumas)

=============================================================
KOMENTAR PEMBACA | KOMENTAR FACEBOOKER


=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | TWITTER |

BERITA KATEGORI LAINNYA:
Previous Post Next Post