Budidaya Burung Walet Melesu

Sarang Burung Lawet (Walet).
KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Harga sarang burung walet Indonesia di pasar dunia sudah bertahun-tahun lamanya
tak kunjung membaik. Ditambah penyerapan konsumsinya di dalam negeri sampai kini masih terbilang rendah, sehingga para pelaku usaha komoditas ini pun belum tergerak untuk serius menggarap pasar dalam negeri.

"Akibat situasi seperti itulah, usaha sarang burung walet rumahan di Kebumen kini dilanda kelesuan. Rumah-rumah walet pun kini kosong ditinggalkan kawanan lawet yang ditelantarkan oleh pemiliknya. Padahal dulu sempat booming dengan banyaknya warga masyarakat di daerah ini yang berlomba-lomba berbudidaya lawet demi mendapatkan pemasukan yang tinggi," ungkap Wahyu Heru Pamungkas (40), pemilik usaha budidaya lawet sekaligus pengepul sarang burung walet di rumahnya Desa Mekarsari, Kecamatan
Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Kamis (30/05/2013).

Wahyu menjelaska sarang burung walet Indonesia selama ini memang masih mengandalkan pasar ekspor, khususnya Cina dan Hongkong. Berdasarkan informasi, di Cina dan Hongkong sarang burung sangat dibutuhkan untuk industri farmasi. Karena itu, harganya pada tahun
2005 mencapai Rp 12 juta perkilogram.

"Namun setelah itu, harganya terus merosot hingga Rp 2 juta perkilogram. Sekarang tertinggi hanya Rp 3 juta perkilogram. Ironisnya, rendahnya harga jual yang ditentukan secara sepihak oleh pengimpor itu dengan dalihnya menyakitkan, katanya sarang burung Indonesia kualitasnya merosot jauh," ujar Heru. (Dwi/­Krjogja).
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | FACEBOOK FAN PAGE | TWITTER |

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Previous Post Next Post