AMBAL (www.beritakebumen.info) - Rencana Pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) mendorong para petani lahan pesisir di Kecamatan Mirit, Ambal dan Buluspesantren Kabupaten Kebumen, kini mulai 'berhitung' tentang modal usaha pertanian mereka,khususnya biaya pembelian bahan bakar.
"Selain pembelian benih dan pupuk, pengeluaran terbesar kami adalah pembelian bahan bakar, baik premium maupun solar untuk mesin penyedot air kami. Wajarlah kalau kami mulai 'berhitung' begitu mendengar rencana Pemerintah menaikkan harga BBM," ujar Sarpin (50), petani Desa Entak Kecamatan Ambal Kebumen, Senin (20/05/2013).
Menurut Sarpin, mengingat lahan pesisir adalah tanah pasir yang tingkat penguapannya tinggi, petani haruslah rajin menyirami lahan mereka dengan air yang disedot dengan mesin diesel. Kecemasan petani pun jelas sangat beralasan karena musim kemarau 2013 sudah di depan mata. Sebab, kebutuhan air musim kemarau sangatlah tinggi, khususnya untuk lahan semangka dan melon.
"Bila kenaikan harga BBM nanti terjadi di musim kemarau, jelas akan sangat menyulitkan kami," jelas Sarpin.
Diungkapkan beberapa petani setempat, 2 liter premium atau solar bisa digunakan untuk menyedot air selama 3 jam. Selama 3 jam itu petani mampu menyirami lahan seluas 5 ribu meter pesegi / 0,5 hektar.
"Petani semangka dan melon biasanya lahannya luas. Bagi yang lahannya mencapai 2 hektar misalnya, sekali siram dibutuhkan 8 liter premium atau solar seharga Rp 36 ribu. Padahal dalam seharinya lahan semangka atau melon harus disiram 2 kali, pagi dan sore hari, sehingga bisa dihitung besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam sehari," jelas Mahmud (40), petani semangka Desa Entak. (Dwi/Krjogja)
=============================================================
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | TWITTER |
"Selain pembelian benih dan pupuk, pengeluaran terbesar kami adalah pembelian bahan bakar, baik premium maupun solar untuk mesin penyedot air kami. Wajarlah kalau kami mulai 'berhitung' begitu mendengar rencana Pemerintah menaikkan harga BBM," ujar Sarpin (50), petani Desa Entak Kecamatan Ambal Kebumen, Senin (20/05/2013).
Menurut Sarpin, mengingat lahan pesisir adalah tanah pasir yang tingkat penguapannya tinggi, petani haruslah rajin menyirami lahan mereka dengan air yang disedot dengan mesin diesel. Kecemasan petani pun jelas sangat beralasan karena musim kemarau 2013 sudah di depan mata. Sebab, kebutuhan air musim kemarau sangatlah tinggi, khususnya untuk lahan semangka dan melon.
"Bila kenaikan harga BBM nanti terjadi di musim kemarau, jelas akan sangat menyulitkan kami," jelas Sarpin.
Diungkapkan beberapa petani setempat, 2 liter premium atau solar bisa digunakan untuk menyedot air selama 3 jam. Selama 3 jam itu petani mampu menyirami lahan seluas 5 ribu meter pesegi / 0,5 hektar.
"Petani semangka dan melon biasanya lahannya luas. Bagi yang lahannya mencapai 2 hektar misalnya, sekali siram dibutuhkan 8 liter premium atau solar seharga Rp 36 ribu. Padahal dalam seharinya lahan semangka atau melon harus disiram 2 kali, pagi dan sore hari, sehingga bisa dihitung besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam sehari," jelas Mahmud (40), petani semangka Desa Entak. (Dwi/Krjogja)
=============================================================
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan ikuti di:
| FACEBOOK GRUP | FACEBOOK PROFIL | TWITTER |
BERITA KATEGORI LAINNYA: