![]() |
| Mahasiswa STAINU memblokir pintu gerbang kampus. (Foto: Rahmat) |
Mereka berunjuk rasa karena pihak kampus dianggap telah mengkomersialisasikan pendidikan melalui kebijakan-kebijakan kampus yang melanggar statua perguruan tinggi. Mereka menuntut dihapusnya kebijakan-kebijakan kampus yang terkesan 'memaksa' dan 'memeras' mahasiswa serta tidak sesuai dengan sesuai dengan aturan-aturan yang seharusnya berlaku bagi Pergutuan Tinggi. Mahasiswa menilai kebijakan kampus hanya didasarkan pada 'UUD' (Ujung-ujungnya duit).
"Kami menuntut setiap kebijakan kampus jangan dikomersialisasikan," ujar Ilham Kamal (21), salah satu peserta aksi demo. Ilham menjelaskan, banyak mahasiswa yang merasa tertekan dengan biaya kuliah yang semakin menjadi. Sedang realisasi alokasi pembayaran mahasiswa tak tahu kemana. Bahkan disinyalir, mahasiswa tingkat S1 'dipaksa' untuk ikut membiayai program pasca sarjana (S2) yang belum lama dibuka di STAINU.
Selain itu, GMPK merasa banyak terjadi pelanggaran dan ketimpangan di dalam birokrasi kampus. Diantaranya adanya rangkap jabatan, keberadaan dosen PNS, dosen tetap dan linear yang belum jelas pada tiap PRODI, Pembantu Ketua yang cacat hukum, dan diskriminasi khususnya pada mahasiswa yang belum registrasi. Termasuk ketua STAINU Kebumen, Imam Satibi, yang merangkap jabatan sebagai ketua LP MA'ARIF Kebumen.
Dalam aksinya, GMPK juga membagi-bagikan lembaran kertas yang berisi tulisan tentang 'kebobrokan' yang terjadi di dalam kampus STAINU. Dengan judul tulisan "Stop Komersialisasi Pendidikan Kampus STAINU Kebumen" disertai sebuah gambar kecil hitam putih bertuliskan "Stop Pembodohan Mahasiswa Stainu Kebumen." (bk01/mat)
=============================================================
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
