KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Kapal nelayan asal Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang terdampar di Desa Sidoharjo, Kecamatan Puring, Kebumen, Kamis (22/11), diduga bukan sekadar nelayan yang tengah mencari ikan.
Kapal tersebut dicurigai selesai digunakan untuk mengangkut para imigran gelap maupun pencari suaka ke Australia.
Kecurigaan tersebut disampaikan sejumlah nelayan Kebumen setelah melihat kapal yang terdampar tersebut.
Kecurigaan yang sama juga disampaikan oleh Komandan SAR Lawet Perkasa, Bejo Priyono. Dari pengamatan dia di lokasi kejadian, kapal yang ditumpangi delapan anak buah kapal (ABK) itu bukan kapal nelayan tetapi kapal barang.
Kecurigaan itu ditambah dengan ketiadaan alat tangkap ikan di dalam kapal kayu berukuran 22,10 x 6,54 x 2,58 meter itu seperti jaring dan semacamnya. Tidak pula ditemukan ikan hasil tangkapan selama melaut.
Namun di dalam KLM Tunas Makmur GT 93 yang diketahui milik PT Halmahera Jaya Abadi tersebut terdapat banyak pelampung dan bekas botol air meneral ukuran 600 ml yang lazim untuk dikonsumsi puluhan orang.
"Baik dari segi bentuk kapal maupun barang-barang yang ada di dalam kapal, sangat sulit dipercaya jika mereka mengaku sedang mencari ikan di laut," ujar Bejo Priyono kepada Suara Merdeka, Jumat (23/11).
Selain itu, Bejo meragukan pengakuan nahkoda KLM Tunas Makmur, Akmal Latif, yang mengaku mesin kapal mati di perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Secara logika, jika memang mati di sana, semestinya terdampar di perairan Bali dan sekitarnya.
Kalau pun mesin mati, posisi kapal berada di perairan sekitar Yogyakarta dan terseret ombak sampai di perairan di Kebumen. "Kami berharap pihak kepolisian untuk menyelidiki lebih lanjut, terhadap kasus ini," ujar Bejo Priyono.
Berangkat Melaut
Seperti diberitakan, sebuah kapal nelayan Wakatobi terdampat di Kebumen, Kamis (22/11). Delapan ABK selamat yakni Akmal (45), Bahrudin (16), Ahmad (27), Abdullah (34), Abdul Haris (47), Ridwan (17), Ligen (20), dan Amin (17). Seluruhnya warga Desa Rukuwa, Binongko, Wakatobi.
Menurut penuturan Kapten KLM Tunas Makmur, Akmal Latif, peristiwa itu bermula saat mereka berangkat melaut dari Pelabuhan Wanci, Kabupaten Wakatobi pada 4 November lalu. Namun sekitar seminggu lalu mesin kapal mengalami kerusakan.
Mesin rusak terjadi saat posisi mereka berada sekitar 300 mil dari Pantai Lombok, Nusa Tenggara Barat.
"Selama seminggu kami terombang-ambing di lautan. Kami tidak bisa meminta pertolongan karena alat komunikasi tidak berfungsi," ujar Akmal.
Kapolres Kebumen AKBP Heru Trisasono SIK MSi melalui Kasubbag Humas AKP Junani Jumantoro, mengakui pihaknya belum mengarah pada dugaan tersebut. Pihakya juga sudah melakukan komunikasi dengan perusahaan pemilik kapal tersebut. (J19-78,14/suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Kapal tersebut dicurigai selesai digunakan untuk mengangkut para imigran gelap maupun pencari suaka ke Australia.
Kecurigaan tersebut disampaikan sejumlah nelayan Kebumen setelah melihat kapal yang terdampar tersebut.
Kecurigaan yang sama juga disampaikan oleh Komandan SAR Lawet Perkasa, Bejo Priyono. Dari pengamatan dia di lokasi kejadian, kapal yang ditumpangi delapan anak buah kapal (ABK) itu bukan kapal nelayan tetapi kapal barang.
Kecurigaan itu ditambah dengan ketiadaan alat tangkap ikan di dalam kapal kayu berukuran 22,10 x 6,54 x 2,58 meter itu seperti jaring dan semacamnya. Tidak pula ditemukan ikan hasil tangkapan selama melaut.
Namun di dalam KLM Tunas Makmur GT 93 yang diketahui milik PT Halmahera Jaya Abadi tersebut terdapat banyak pelampung dan bekas botol air meneral ukuran 600 ml yang lazim untuk dikonsumsi puluhan orang.
"Baik dari segi bentuk kapal maupun barang-barang yang ada di dalam kapal, sangat sulit dipercaya jika mereka mengaku sedang mencari ikan di laut," ujar Bejo Priyono kepada Suara Merdeka, Jumat (23/11).
Selain itu, Bejo meragukan pengakuan nahkoda KLM Tunas Makmur, Akmal Latif, yang mengaku mesin kapal mati di perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Secara logika, jika memang mati di sana, semestinya terdampar di perairan Bali dan sekitarnya.
Kalau pun mesin mati, posisi kapal berada di perairan sekitar Yogyakarta dan terseret ombak sampai di perairan di Kebumen. "Kami berharap pihak kepolisian untuk menyelidiki lebih lanjut, terhadap kasus ini," ujar Bejo Priyono.
Berangkat Melaut
Seperti diberitakan, sebuah kapal nelayan Wakatobi terdampat di Kebumen, Kamis (22/11). Delapan ABK selamat yakni Akmal (45), Bahrudin (16), Ahmad (27), Abdullah (34), Abdul Haris (47), Ridwan (17), Ligen (20), dan Amin (17). Seluruhnya warga Desa Rukuwa, Binongko, Wakatobi.
Menurut penuturan Kapten KLM Tunas Makmur, Akmal Latif, peristiwa itu bermula saat mereka berangkat melaut dari Pelabuhan Wanci, Kabupaten Wakatobi pada 4 November lalu. Namun sekitar seminggu lalu mesin kapal mengalami kerusakan.
Mesin rusak terjadi saat posisi mereka berada sekitar 300 mil dari Pantai Lombok, Nusa Tenggara Barat.
"Selama seminggu kami terombang-ambing di lautan. Kami tidak bisa meminta pertolongan karena alat komunikasi tidak berfungsi," ujar Akmal.
Kapolres Kebumen AKBP Heru Trisasono SIK MSi melalui Kasubbag Humas AKP Junani Jumantoro, mengakui pihaknya belum mengarah pada dugaan tersebut. Pihakya juga sudah melakukan komunikasi dengan perusahaan pemilik kapal tersebut. (J19-78,14/suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP

إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!