KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Sekitar 1.400 hektare sawah yang berada di tujuh desa di Kecamatan Buayan dan Kuwarasan, Kebumen, terancam terlambat ditanami padi pada musim tanam (MT) pertama ini.
Pasalnya, sawah yang berada di Daerah Irigasi (DI) Bendung Karet Jatinegara akan kembali menjadi sawah tadah hujan menyusul rusaknya Bendung Karet di Desa Rogodadi, Buayan, Kebumen.
Menurut penjaga bendungan, Sudirman, karet bendungan yang mulai beroperasi tahun 2000 tersebut sobek sejak 17 Agustus lalu. Akibatnya bendungan tersebut tidak bisa berfungsi membendung air sungai untuk kemudian dialirkan ke saluran irigasi. "Sebenarnya sudah dilakukan pembuatan bendung darurat, namun bendung yang terbuat dari tumpukan zak berisi pasir itu jebol karena tidak kuat menahan arus sungai," kata pria yang akrab disapa Langka itu kepada Suara Merdeka, Selasa (16/10).
Kepala Bidang Irigasi pada Dinas Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen, Muchtarom SST, membenarkan kondisi tersebut. Selama ini Bendung Karet memasok air irigasi bagi desa-desa sawah di dua kecamatan. Antara lain Desa Kamulyan, Rogodadi, Gebluk, Rangkah, Weton Waten, dan Weton Kulon.
"Pada tahap awal beroperasi bisa mencukupi 750 hektare, namun sekarang ini dilakukan pengembangan hingga mencapai 1.400 hektare," ujar Muchtarom didampingi Kasi Operasional Pemeliharaan (OP) Irigasi Kuswanto ST di sela-sela meninjau Bendung Karet.
Rp 8 Miliar
Menurut dia, sebenarnya perbaikan sudah dilakukan pada karet bendungan. Akan tetapi karena tambalan belum sempurna, karet yang menjadi bahan dasar bendungan itu masih bocor. Padahal untuk dibuat bendung darurat saat ini jelas tidak mungkin karena dipastikan akan jebol. Untuk itu pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) untuk melakukan penambalan ulang dengan kualitas yang lebih baik.
"Sebab jika tidak tertangani tentu area pertanian yang selama ini mengandalkan air irigasi kembali menjadi sawah tadah hujan," imbuh Muchtarom seraya menyebutkan jika terjadi keterlambatan musim tanam akan membawa dampak yang lebih luas.
Dia menerangkan, sebagian besar sawah di Daerah Irigasi Bendung Karet berada di dataran rendah. Karena itu, jika terlambat tanam dikhawatirkan tanaman padi yang masih kecil akan mati karena terandam air. Adapun jika petani bisa tanam lebih awal, saat sawah terendam air tanaman sudah tinggi. "Untuk penanganan permanen, kami mendapat informasi perbaikan telah diusulkan pada tahun anggaran 2013 sebesar Rp 8 miliar," ujarnya. (J19-78,88/suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Pasalnya, sawah yang berada di Daerah Irigasi (DI) Bendung Karet Jatinegara akan kembali menjadi sawah tadah hujan menyusul rusaknya Bendung Karet di Desa Rogodadi, Buayan, Kebumen.
Menurut penjaga bendungan, Sudirman, karet bendungan yang mulai beroperasi tahun 2000 tersebut sobek sejak 17 Agustus lalu. Akibatnya bendungan tersebut tidak bisa berfungsi membendung air sungai untuk kemudian dialirkan ke saluran irigasi. "Sebenarnya sudah dilakukan pembuatan bendung darurat, namun bendung yang terbuat dari tumpukan zak berisi pasir itu jebol karena tidak kuat menahan arus sungai," kata pria yang akrab disapa Langka itu kepada Suara Merdeka, Selasa (16/10).
Kepala Bidang Irigasi pada Dinas Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen, Muchtarom SST, membenarkan kondisi tersebut. Selama ini Bendung Karet memasok air irigasi bagi desa-desa sawah di dua kecamatan. Antara lain Desa Kamulyan, Rogodadi, Gebluk, Rangkah, Weton Waten, dan Weton Kulon.
"Pada tahap awal beroperasi bisa mencukupi 750 hektare, namun sekarang ini dilakukan pengembangan hingga mencapai 1.400 hektare," ujar Muchtarom didampingi Kasi Operasional Pemeliharaan (OP) Irigasi Kuswanto ST di sela-sela meninjau Bendung Karet.
Rp 8 Miliar
Menurut dia, sebenarnya perbaikan sudah dilakukan pada karet bendungan. Akan tetapi karena tambalan belum sempurna, karet yang menjadi bahan dasar bendungan itu masih bocor. Padahal untuk dibuat bendung darurat saat ini jelas tidak mungkin karena dipastikan akan jebol. Untuk itu pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) untuk melakukan penambalan ulang dengan kualitas yang lebih baik.
"Sebab jika tidak tertangani tentu area pertanian yang selama ini mengandalkan air irigasi kembali menjadi sawah tadah hujan," imbuh Muchtarom seraya menyebutkan jika terjadi keterlambatan musim tanam akan membawa dampak yang lebih luas.
Dia menerangkan, sebagian besar sawah di Daerah Irigasi Bendung Karet berada di dataran rendah. Karena itu, jika terlambat tanam dikhawatirkan tanaman padi yang masih kecil akan mati karena terandam air. Adapun jika petani bisa tanam lebih awal, saat sawah terendam air tanaman sudah tinggi. "Untuk penanganan permanen, kami mendapat informasi perbaikan telah diusulkan pada tahun anggaran 2013 sebesar Rp 8 miliar," ujarnya. (J19-78,88/suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!