Tahun Ajaran Baru, Perajin Tas Kebanjiran Order

KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Para perajin tas di Kabupaten Kebumen menggenjot produksi untuk memenuhi pesanan. Pasalnya, menjelang tahun ajaran baru sekolah, permintaan tas melonjak hingga 300% dibandingkan saat normal. H Zaini Akrom (54) salah satu perajin mengakui, meningkatnya pesanan mulai terjadi bulan Mei lalu. Biasanya kondisi itu akan bertahan hingga Agustus mendatang. Setelah itu, permintaan akan normal kembali.

"Sebenarnya permintaan lebih dari 300% tetapi karena kekurangan tenaga dan modal, tidak semua bisa terpenuhi," ujar Zaini Akrom saat ditemui Suara Merdeka di rumah yang sekaligus dijadikan tempat usaha Selasa (12/6).

Sebagai perajin tas yang masih kecil, dia dibantu empat karyawan dan anaknya. Dalam 10 hari dia hanya mampu memproduksi 30 kodi atau 600 tas. Jumlah tersebut sudah dikerjakan dengan lembur. Tas-tas produksinya untuk memenuhi pasar Wonosobo, Banjarnegara, Yogyakarta hingga ke Lampung.

Selain terbatas modal dan tenaga, pria yang menggeluti usaha tas sejak 2007 itu tidak berani menyetok produk terlalu banyak. Sebab model tas sangat dinamis dan gampang sekali berubah.

Untuk itu, sebanyak 40% tas yang diproduksi ialah pesanan dari sekolah mulai dari TK, PAUD, SD, maupun SMP.

"Selebihnya baru memproduksi untuk pasar umum," imbuhnya seraya menyebutkan harga grosir tas produksi Rp 15.000 - Rp 20.000,-.

Pesanan Supermarket


Hal senada dikemukakan Hj. Sulastri Zubair (43), pengusaha tas yang juga kepala Desa Bandung. Pada tahun ajaran baru ini, peningkatan produksi mencapai 300%.

Dengan 40 orang tenaga kerja, dalam sehari dia memproduksi 200 tas. Sebagian tas dengan merek Dinamor itu untuk memenuhi pesanan di supermarket di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera.

"Saya targetkan dalam seminggu, sebanyak 30 kodi untuk memenuhi pesanan dari supermarket," ujar Sulastri Zubair yang konsisten memproduksi tas kelas menengah.

Kendati memiliki banyak karyawan, dia masih kewalahan bisa memenuhi orderan. Padahal pengerjaan dilakukan dengan lembur hingga tengah malam.

"Saya bersyukur merek 'Dinamor' mulai disejajarkan dengan tas-tas bermerk yang sudah lama eksis," tandasnya seraya menegaskan pihaknya selalu standar kualitas tas produksinya.

Sulastri menyampaikan, di Desa Bandung dari sekitar 800 keluarga sebanyak 60% di antaranya bekerja di sektor wiraswasta. Mulai dari perajin tas, peci, kopiah haji, seragam sekolah hingga atribut pramuka. Selain perajin tas, para perajin peci juga tengah menggenjot produksi menjelang Ramadhan. "Kebetulan tahun ajaran baru ini berbarengan dengan menjelang Ramadan," katanya. (J19-86/suaramerdeka)


=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Previous Post Next Post