DWP Setda Kebumen Kampanyekan Stop Bullying

KEBUMEN (www.beritakebumen.info) - Masih segar dalam ingatan kita, peristiwa pengeroyokan siswa hingga tewas, di salah satu SMK di Kabupaten Kebumen beberapa waktu yang lalu. Kejadian tersebut sekaligus membuka kesadaran kita bahwa perilaku Bully ( perilaku yang menyakitkan ) masih banyak terjadi di lingkungan masyarakat, khususnya lingkungan sekolah. Bullying adalah perilaku negatif yang mengontrol orang lain sehingga tak berdaya untuk bertahan atau melawan.

Menyikapi perilaku Bullying yang kerap terjadi, peran masyarakat ,khususnya para orang tua dan sekolah menjadi sangat penting. Untuk itu dibutuhkan perhatian yang serius untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk mengurangi terjadinya perilaku Bullying di sekolah.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu anggota Dharma wanita Setda Kebumen Dra. Wiwik Widiarti Purwoko saat mengisi materi dalam pertemuan Dharma wanita Persatuan Setda, di ruang rapat Sekda, Jumat ( 15/6). Pertemuan bulanan yang dipimpin oleh Kepala DWP Setda Kebumen Nyonya Farita Adi pandoyo tersebut diikuti sejumlah pengurus dan anggota DWP Setda Kebumen.

Dalam paparannya isteri Kabag Humas Setda Kebumen tersebut juga menambahkan perilaku bullying terbagi dalam 3 kategori , yaitu yang bersifat psikologis, fisik dan verbal. Bullying secara fisik misalnya memfitnah, mempermalukan, menakut-nakuti, menolak, menghina, melecehkan, mengecilkan, mentertawakan orang lain. Contoh lainnya seperti mengancam, menyebarkan gosip. mencibir, dan mendiamkan.

Sementara bullying Fisik seperti menendang, menempeleng, memukul, mencubit, menjotos, menjewer, lari keliling lapangan, push up, bersihkan WC, dan memalak. Sedangkan yang bersifat verbal dalam bentuk berteriak, meledek, mengata-ngatai, name calling, mengumpat, memarahi, dan memaki.

Adapun efek dari bullying itu sendiri bagi korban bervariasi. Dari menimbulkan rasa cemas, gelisah, tertekan, serta penurunan kepercyaan diri, putus asa. Akibatnya anak menjadi menurun prestasinya, tidak konsentrasi serta berkurangnya kreativitas. Bahkan bila pada tahap tertentu bisa menimbulkan rasa sakit hati, yang berpotensi mendorong upaya balsa dendam kepada orang lain yang lebih lemah.

Pendekatan Orang Tua

Menyikapi perilaku bullying yang terjadi di sekolah ada beberapa upaya harus dilakuakn oleh orang tua. Antara lain dengan mencermati gejala-gejala perubahan anak, dan segeralah lakukan pendekatan padanya. orang tua juga harus bersikap tenang dalam bertindak, sambil meyakinkan anak bahwa ia telah mendapat perlindungan dari perilaku bullying mendatang.

Tahapan selanjutnya adalah dengan melaporkan kepada guru/ pihak sekolah untuk segera dilakukan penyelidikan. Termasuk dengan meminta counsellor (guru BK) sekolah melakukan penyelidikan tentang apa yang telah terjadi. Meminta pihak sekolah untuk memberikan info tentang apa yang sebenarnya telah terjadi serta mengajarkan anak cara-cara menghadapi bullying.

Seperti dengan mengajari anak agar menyembunyikan kemarahan atau kesedihannya. Karena bila ia tampak bereaksi si bullying akan senang. Kiat lainnya adalah dengan memandang mata si bullying, serta posisi anak berdiri tegak, kepala ditegakkan dalam menghadapi bullying. " Untuk mengantisipasi perilaku pengeroyokan, anak supaya tidak berjalan sendirian, tetap tenang dalam situasi apapun serta menyingkir bila ada bahaya " imbuh wanita yang mahir berbahasa inggris tersebut. (Bagian Humas dan Protokol Setda Kebumen)


=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Previous Post Next Post