KEBUMEN (The Independent News) - Instrumen lagu berjudul "Dinda Bestari" mengalun lembut dari gesekan biola yang dimainkan seorang laki-laki tua di serambi rumah di Kampung Trukahan, Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Kebumen, Selasa (6/3). Sesekali lelaki berwajah keriput itu berganti mengalunkan irama keroncong dengan iringan alat musik ukulele. Ya, lelaki tua itu bernama Ahmad Tari (84). Tumah yang berada di Gang Garuda itu menjadi saksi bisu, kecintaan penghuninya pada musik keroncong.
Hingga di usia senjanya, bapak tujuh anak, kakek 35 cucu dan buyut dari lima cicit itu, tidak bisa lepas dengan musik keroncong.
Ahmad Tari bukanlah seorang maestro musik keroncong. Tetapi kesetiaannya menekuni bidang ini patut diapresiasi.
Di usianya yang sudah senja, dia masih memainkan musik keroncong bersama rekan-rekannya di kelompok keroncong "Romansa". "Semuanya anggotanya sudah tua semua. Anak-anak muda sudah jarang yang mau menekuni musik keroncong," ujar Ahmad Tari saat berbincang ringan dengan Suara Merdeka.
Mbah Tari, demikian biasanya ia dipanggil, tidak sekadar mahir memainkan alat musik seperti biola,celo, ukulele dan cak. Tetapi, dia juga mampu membuat berbagai alat musik tersebut. Sejak tahun 1980, dia dikenal sebagai pembuat alat musik khusus keroncong. Tetapi satu yang tidak bisa dibuantya; giat. "Gitar lebih sulit, menurutnya saya," imbuhnya.
Belajar Autodidak
Seperti halnya kebisaannya bermain musik, Keahlian membuat alat musik diperoleh Mbah Tari secara autodidak. Awalnya, dia hanya memperbaiki salah satu biola milik rekannya yang rusak. Merasa bisa, pria yang berprofesi sebagai pembuat stempel, itu pun akhirnya belajar membuat alat musik.
Ternyata, hasil garapannya bagus, sehingga banyak penggemar keroncong yang membelinya. Dia pun dikenal sebagai pembuat alat musik keroncong.
Sebelum tahun 1990 menjadi masa emas baginya. Hasil karyanya banyak dipesan oleh para pelaku kesenian keroncong mulai dari Kebumen, Purworejo, Magelang hingga Kediri. "Sejak dulu, saya membuat hanya kalau ada pesanan saja," imbuhnya.
Dalam sebulan, pria yang pernah menjabat sebagai ketua RT selama 42 tahun itu bisa membuat dua unit alat musik.
Meskipun kualitasnya bisa bersaing dengan produksi pabrik, ala tmusik buatan Mbah Tari dijual lebih murah. Dia mencontohkan biola buatan pabrik harganya Rp 1.250.000 namun dia menjual dengan harga Rp 600.000 hingga Rp 700.000.
Namun karena musik keroncong tidak ada lagi peminat, dia pun tidak pernah lagi mendapat pesanan. Sejak beberapa tahun ini, hanya terkadang ada yang menserviskan biola dan musik yang lain.
Bahkan, di rumahnya, Mbah Tari masih memiliki sekitar 10 alat musik yang belum laku dijual. (Supriyanto-53|suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE
Hingga di usia senjanya, bapak tujuh anak, kakek 35 cucu dan buyut dari lima cicit itu, tidak bisa lepas dengan musik keroncong.
Ahmad Tari bukanlah seorang maestro musik keroncong. Tetapi kesetiaannya menekuni bidang ini patut diapresiasi.
Di usianya yang sudah senja, dia masih memainkan musik keroncong bersama rekan-rekannya di kelompok keroncong "Romansa". "Semuanya anggotanya sudah tua semua. Anak-anak muda sudah jarang yang mau menekuni musik keroncong," ujar Ahmad Tari saat berbincang ringan dengan Suara Merdeka.
Mbah Tari, demikian biasanya ia dipanggil, tidak sekadar mahir memainkan alat musik seperti biola,celo, ukulele dan cak. Tetapi, dia juga mampu membuat berbagai alat musik tersebut. Sejak tahun 1980, dia dikenal sebagai pembuat alat musik khusus keroncong. Tetapi satu yang tidak bisa dibuantya; giat. "Gitar lebih sulit, menurutnya saya," imbuhnya.
Belajar Autodidak
Seperti halnya kebisaannya bermain musik, Keahlian membuat alat musik diperoleh Mbah Tari secara autodidak. Awalnya, dia hanya memperbaiki salah satu biola milik rekannya yang rusak. Merasa bisa, pria yang berprofesi sebagai pembuat stempel, itu pun akhirnya belajar membuat alat musik.
Ternyata, hasil garapannya bagus, sehingga banyak penggemar keroncong yang membelinya. Dia pun dikenal sebagai pembuat alat musik keroncong.
Sebelum tahun 1990 menjadi masa emas baginya. Hasil karyanya banyak dipesan oleh para pelaku kesenian keroncong mulai dari Kebumen, Purworejo, Magelang hingga Kediri. "Sejak dulu, saya membuat hanya kalau ada pesanan saja," imbuhnya.
Dalam sebulan, pria yang pernah menjabat sebagai ketua RT selama 42 tahun itu bisa membuat dua unit alat musik.
Meskipun kualitasnya bisa bersaing dengan produksi pabrik, ala tmusik buatan Mbah Tari dijual lebih murah. Dia mencontohkan biola buatan pabrik harganya Rp 1.250.000 namun dia menjual dengan harga Rp 600.000 hingga Rp 700.000.
Namun karena musik keroncong tidak ada lagi peminat, dia pun tidak pernah lagi mendapat pesanan. Sejak beberapa tahun ini, hanya terkadang ada yang menserviskan biola dan musik yang lain.
Bahkan, di rumahnya, Mbah Tari masih memiliki sekitar 10 alat musik yang belum laku dijual. (Supriyanto-53|suaramerdeka)
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE

Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!