KEBUMEN (The Independent News) - Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen mengembangkan tanaman pangan berupa singkong Darul Hidayah melalui demplot seluas 100 hektare di 19 kecamatan. Harapannya singkong ini akan berkembang luas sehingga meningkatkan kesejahteraan petani karena mampu menghasilkan 15 kilogram per pohon.
"Kalau singkong lokal, satu hektarenya hanya menghasilkan 60 sampai 70 ton dengan produksi per pohon sekitar 3 hingga 4 kilogram. Namun Darul Hidayah bisa 150 ton per hektare karena satu pohon minimal menghasilkan 15 kilogram," jelas Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen, Ir Machasin, Selasa (6/3).
Keunggulan lain dari singkong yang dipanen setelah berumur 10 hingga 12 bulan tersebut, bisa dibudidaya dengan tumpang sari, yakni sebagai tanaman sela di antara tanaman pokok padi atau tanaman palawija seperti jagung, kacang tanah, kacang hijau atau kedelai.
Tahun 2010, lanjut Machasin, pihaknya juga membuat demplot singkong Darul Hidayah pada lahan 10 hektare. "Hanya saja waktu itu, oleh petani dijual secara tebasan dengan pohonnya. Akibatnya, tidak bisa dikembangkan," ujarnya.
Kini demplot singkong Darul Hidayah kembali dibuat pada lahan 100 hektare dengan larangan menjual batang tanaman. Lahan demplot tersebar di 19 kecamatan dari 26 kecamatan di Kabupaten Kebumen. Kecamatan yang tidak ada demplotnya, yakni Kecamatan Kebumen, Bonorowo, Prembun, Kutowinangun, Adimulyo, Gombong, dan Kuwarasan. (Suk|krjogja)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE
"Kalau singkong lokal, satu hektarenya hanya menghasilkan 60 sampai 70 ton dengan produksi per pohon sekitar 3 hingga 4 kilogram. Namun Darul Hidayah bisa 150 ton per hektare karena satu pohon minimal menghasilkan 15 kilogram," jelas Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen, Ir Machasin, Selasa (6/3).
Keunggulan lain dari singkong yang dipanen setelah berumur 10 hingga 12 bulan tersebut, bisa dibudidaya dengan tumpang sari, yakni sebagai tanaman sela di antara tanaman pokok padi atau tanaman palawija seperti jagung, kacang tanah, kacang hijau atau kedelai.
Tahun 2010, lanjut Machasin, pihaknya juga membuat demplot singkong Darul Hidayah pada lahan 10 hektare. "Hanya saja waktu itu, oleh petani dijual secara tebasan dengan pohonnya. Akibatnya, tidak bisa dikembangkan," ujarnya.
Kini demplot singkong Darul Hidayah kembali dibuat pada lahan 100 hektare dengan larangan menjual batang tanaman. Lahan demplot tersebar di 19 kecamatan dari 26 kecamatan di Kabupaten Kebumen. Kecamatan yang tidak ada demplotnya, yakni Kecamatan Kebumen, Bonorowo, Prembun, Kutowinangun, Adimulyo, Gombong, dan Kuwarasan. (Suk|krjogja)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP dan like FAN PAGE

Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!