KEBUMEN-Ikon Kabupaten Kebumen dengan burung walet tidak lagi bisa diandalkan. Pasalnya, ekologi burung penghasil air liur bernilai ekonomi tinggi itu kondisinya sudah rusak. Bahkan nyaris punah.
Unduhan sarang walet yang memasuki masa kapitu saat ini pun merosot tajam. Seperti di Goa Pasir Desa Pasir Kecamatan Ayah yang hanya mendapatkan 1 kg saja. Sebelumnya, saat musim kapapat hanya mendapatkan 3 kg. Padahal, untuk biaya proses unduhan ini melebihi harga sarang walet yang diperoleh tersebut.
Selain di Pasir, sarang walet yang menjadi kejayaan kabupaten berslogan "Beriman" pada tahun 1997 itu juga terdapat di Goa Karangbolong, Kecamatan Buayan, dan Goa Karangduwur Kecamatan Ayah.
Harga 1 kg sarang walet sekitar Rp 2,4 juta, sedangkan untuk prosesi unduhan yang dilaksanakan dengan nanggap wayang itu mencapai Rp 30 juta. Lebih parah lagi, dalam pengunduhannya dilakukan serempak. Hal itu mengakibatkan walet yang masih bayi berjatuhan ke batu. Burung yang belum bisa terbang tersebut tidak lama kemudian mati.
Ekosistem walet yang sudah rusak itu kian bertambah parah pada proses pengunduhan berikutnya. Karena tidak ada regenerasi, goa yang biasa dihuni walet itu pun tidak lama lagi kosong melompong."Mestinya, pemerintah tanggap terhadap kerusakan ekosistem walet yang nyaris punah ini," kata Sodirun (43), warga Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah.
Camat Ayah, Ahmad Bahrun mengakui pendapatan sarang burung walet tidak sebanding dengan biaya proses pengunduhan yang mencapai puluhan juta,"Memang saat ini sudah tidak bisa diandalkan lagi," imbuhnya. Pada tahun 2010 Rp 145,9 juta sedangkan tahun 2011 Rp 130,7 juta.
Diserahkan Desa
Plt Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset DAerah (DPPKAD) Kabupaten Kbeumen, Supangat, SE yang ditemui secara terpisah, mengemukakan, menurunnya pendapatan atau sarang walet itu telah dikaji dan dianalisa. Juga diambil langkah-langkah penanganannya.
Salah satu opsinya yakni menyerahkan kepada pihak desa untuk mengelola, sedangkan Pemkab tinggal tahu bersihnya saja. "Namun, opsi tersebut tidak disanggupi desa karena dari hitung-hitungan matematika tidak masuk," selanya.
Harga walet tergantung musim. Pada Karo, saat puasa hingga lebaran, sarang walet sulit dijual. Hingga laku usai lebaran, kondisi sarang walet itupun sudah rusak tersebut dihargai Rp 2 juta per kg. Masa kapapat Rp 4 juta per kg, dan kapitu Rp 2,4 per kg. Tahun ini yang masih ada satu unduhan lagi yakni masa Kasanga.
Dari pengamatan Kepala UPT Sarang Walet Puryono, polulasi walet yang berkurang akibat adanya rumah walet yang dibangun masyarakat. Juga karena faktor alam. Supangat mengungkapkan, dulu, lokasi sekitar sarang walet terdapat rerimbunan pohon. Tetapi saat ini sudah pohonnya berkurang karena ditebang. Pihaknya berharap agar lokasi sekitar sarang walet itu dihijaukan kembali. Langkah lain dalam pengambilan opsi penanganan terhadap menurunnya pendapatan sarang walet juga dilakukan dengan menempatkan krekel (Makanan berbahan singkong) di latai goa. Makanan yang dibiarkan tersebut akan berjamur dan dihinggapi serangga. (K5-84|suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Unduhan sarang walet yang memasuki masa kapitu saat ini pun merosot tajam. Seperti di Goa Pasir Desa Pasir Kecamatan Ayah yang hanya mendapatkan 1 kg saja. Sebelumnya, saat musim kapapat hanya mendapatkan 3 kg. Padahal, untuk biaya proses unduhan ini melebihi harga sarang walet yang diperoleh tersebut.
Selain di Pasir, sarang walet yang menjadi kejayaan kabupaten berslogan "Beriman" pada tahun 1997 itu juga terdapat di Goa Karangbolong, Kecamatan Buayan, dan Goa Karangduwur Kecamatan Ayah.
Harga 1 kg sarang walet sekitar Rp 2,4 juta, sedangkan untuk prosesi unduhan yang dilaksanakan dengan nanggap wayang itu mencapai Rp 30 juta. Lebih parah lagi, dalam pengunduhannya dilakukan serempak. Hal itu mengakibatkan walet yang masih bayi berjatuhan ke batu. Burung yang belum bisa terbang tersebut tidak lama kemudian mati.
Ekosistem walet yang sudah rusak itu kian bertambah parah pada proses pengunduhan berikutnya. Karena tidak ada regenerasi, goa yang biasa dihuni walet itu pun tidak lama lagi kosong melompong."Mestinya, pemerintah tanggap terhadap kerusakan ekosistem walet yang nyaris punah ini," kata Sodirun (43), warga Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah.
Camat Ayah, Ahmad Bahrun mengakui pendapatan sarang burung walet tidak sebanding dengan biaya proses pengunduhan yang mencapai puluhan juta,"Memang saat ini sudah tidak bisa diandalkan lagi," imbuhnya. Pada tahun 2010 Rp 145,9 juta sedangkan tahun 2011 Rp 130,7 juta.
Diserahkan Desa
Plt Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset DAerah (DPPKAD) Kabupaten Kbeumen, Supangat, SE yang ditemui secara terpisah, mengemukakan, menurunnya pendapatan atau sarang walet itu telah dikaji dan dianalisa. Juga diambil langkah-langkah penanganannya.
Salah satu opsinya yakni menyerahkan kepada pihak desa untuk mengelola, sedangkan Pemkab tinggal tahu bersihnya saja. "Namun, opsi tersebut tidak disanggupi desa karena dari hitung-hitungan matematika tidak masuk," selanya.
Harga walet tergantung musim. Pada Karo, saat puasa hingga lebaran, sarang walet sulit dijual. Hingga laku usai lebaran, kondisi sarang walet itupun sudah rusak tersebut dihargai Rp 2 juta per kg. Masa kapapat Rp 4 juta per kg, dan kapitu Rp 2,4 per kg. Tahun ini yang masih ada satu unduhan lagi yakni masa Kasanga.
Dari pengamatan Kepala UPT Sarang Walet Puryono, polulasi walet yang berkurang akibat adanya rumah walet yang dibangun masyarakat. Juga karena faktor alam. Supangat mengungkapkan, dulu, lokasi sekitar sarang walet terdapat rerimbunan pohon. Tetapi saat ini sudah pohonnya berkurang karena ditebang. Pihaknya berharap agar lokasi sekitar sarang walet itu dihijaukan kembali. Langkah lain dalam pengambilan opsi penanganan terhadap menurunnya pendapatan sarang walet juga dilakukan dengan menempatkan krekel (Makanan berbahan singkong) di latai goa. Makanan yang dibiarkan tersebut akan berjamur dan dihinggapi serangga. (K5-84|suaramerdeka)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
إرسال تعليق
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!