Meski air Waduk Wadaslintang dan Sempor sudah dialirkan pada 1 Oktober dan dibitnya ditambah pada 15 Oktober, ribuan petani yang menggarap tanah seluas 20.000 hektare (ha) belum melakukan tanam.
Arel persawahan yang terlalu kering setelah kemarau, air irigasi waduk belum mampu menjangkau luas sawah secara keseluruhan, bahkan belum sampai 50%.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kebumen Machasin mengatakan lahan yang terlalu keringnya membuat perjalanan air ke sawah-sawah sangat lamban.
"Dari awal Oktober lalu sampai sekarang belum sampai 50% lahan sawah yang teraliri air dari Waduk Sempor dan Wadaslintang dengan luas total 20.000 hektare. Sebab, air baru mengisi sawah yang tanahnya retak-retak, sehingga laju air lamban karena airnya menyerap terlebih dahulu pada tanah yang mengering tersebut," ujarnya, Senin (17/10).
Dengan demikian, lanjut Machasin, jadwal musim tanam di Kebumen molor dari rencana yang ditetapkan. Semula Dinas Pertanian memperkirakan awal musim tanam pada Oktober. Namun, karena belum ada hujan, musim tanam mundur meski sawah sudah dialiri air dari kedua waduk tersebut.
Saat ini, lanjutnya, para petani masih berusaha menggemburkan lahan sawah yang sebelumnya kekeringan. Untuk menjadikan tanah kering menjadi gempur, ujarnya, membutuhkan perendaman sekitar sepekan. "Kami memprediksikan awal musim tanam baru dilakukan akhir Oktober atau awal November mendatang," jelasnya.
(Liliek Dharmawan - MICOM)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Arel persawahan yang terlalu kering setelah kemarau, air irigasi waduk belum mampu menjangkau luas sawah secara keseluruhan, bahkan belum sampai 50%.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kebumen Machasin mengatakan lahan yang terlalu keringnya membuat perjalanan air ke sawah-sawah sangat lamban.
"Dari awal Oktober lalu sampai sekarang belum sampai 50% lahan sawah yang teraliri air dari Waduk Sempor dan Wadaslintang dengan luas total 20.000 hektare. Sebab, air baru mengisi sawah yang tanahnya retak-retak, sehingga laju air lamban karena airnya menyerap terlebih dahulu pada tanah yang mengering tersebut," ujarnya, Senin (17/10).
Dengan demikian, lanjut Machasin, jadwal musim tanam di Kebumen molor dari rencana yang ditetapkan. Semula Dinas Pertanian memperkirakan awal musim tanam pada Oktober. Namun, karena belum ada hujan, musim tanam mundur meski sawah sudah dialiri air dari kedua waduk tersebut.
Saat ini, lanjutnya, para petani masih berusaha menggemburkan lahan sawah yang sebelumnya kekeringan. Untuk menjadikan tanah kering menjadi gempur, ujarnya, membutuhkan perendaman sekitar sepekan. "Kami memprediksikan awal musim tanam baru dilakukan akhir Oktober atau awal November mendatang," jelasnya.
(Liliek Dharmawan - MICOM)
=============================================================
Untuk mendapatkan informasi terbaru, dan yang tidak terposting silahkan bergabung di FACEBOOK GRUP
Post a Comment
Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!