Suwuk, Gerbang Menuju Agrobisnis

SUWUK, dikenal belakangan ketimbang objek wisata lainnya di Kebumen. Sebut saja Pantai Logending, Petanahan dan Goa Jatijajar. Namun, seiring penggalian potensi wisata secara gencar yang dilakukan Bupati H Buyar Winarso SE selama menjabat setahun ini, tempat tersebut berhasil tersingkap memiliki prospek gemilang untuk masa mendatang.

Lokasinya yang strategis, tidak bisa digantikan tempat lain. Suwuk yang berada di Desa Tambakmulyo, Kecamatan Puring itu, satu-satunya kawasan yang bisa diandalkan untuk menuju pembangunan jangka panjang 25 tahun mendatang. Di tempat tersebut, terdapat titik temu antara sektor pariwisata dengan pertanian.

Kawasan tersebut seperti layaknya pijakan untuk melangkah ke titian pembangunan berikutnya. Sungguh suatu awal yang cemerlang, untuk pencapaian cita-cita besar. Menariknya, potensi itu tersingkap saat Bupati bersama Wakil Bupati Djuwarni AmdPd menjabat selama satu tahun, tepatnya pada 26 Juli 2010, sejak mereka dilantik Gubernur Jateng H Bibit Waluyo.

Seolah kunci gerbang sudah didapatkan, Bupati asal Desa Wonokromo, Kecama Alian, Kebumen itu lantas membebaskan lahan sekitar Suwuk seluas 14 hektare. Gayung pun bersambut. Masyarakat setempat mendukungnya. Dan, Pemkab telah memberi ganti rugi pembebasan tanah itu sebesar Rp 370 juta.

Sebelumnya, tanah di lokasi tersebut masih sewa dari masyarakat. ”Untuk mewujudkan kawasan agrobisnis tersebut, memang diperlukan langkah bertahap,” kata Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Kebumen, Drs Aden Andri Susilo MSi.

Suwuk, tempat yang menawarkan pesona alam itu, masih satu kawasan dengan Pantai Karangbolong, Kecamatan Buayan, sejauh 18 kilometer dari Gombong. Selain panorama alam yang khas, serta ombak dan pegunungan kars, juga terdapat muara sungai dan kebun binatang mini. Tempat parkirnya pun luas serta terdapat selter yang menawan.

Lokasi Strategis

Suwuk berbeda dengan tempat wisata lainnya yang sudah permanen. Seperti Goa Jatijajar. Lokasi Suwuk juga strategis, lantaran dilewati Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS). Jadi, pilihan Suwuk untuk dikembangkan menuju kawasan agrobisnis itu bukanlah isapan jembol belaka.

Bupati juga mengawali kerjasama dengan perguruan tinggi seperti Unsoed Purwokerto terkait pengembangan potensi pertanian di Kebumen. Juga perbaikan jaringan irigasi tersier dan sekunder melalui kooordinasi secara intens dengan pusat. Hal itu mengingat kewenangannya yang berbeda. Seperti jaringan di hilir yang ditangani Pemkab, sedangkan hulu pusat.

”Karena itu, penanganannya harus singkron. Seperti di Waduk Sempor, yang pada bagian atas sudah ditangani pusat, kemudian ditangani kabupaten pada bagian bawahnya,” jelas Aden.

Saat jabatannya berumur setahun itu, Bupati juga mempercantik wilayah perbatasan Kebumen dengan membangun gapura. Seperti di Kecamatan Ayah yang berbatasan dengan Cilacap, Rowokele berbatasan dengan Banyumas, dan Prembun yang berbatasan dengan Purworejo.

Mendapatkan pijakan untuk melangkah menuju agrobisnis, rupanya menjadi spirit tersendiri bagi Bupati dalam memimpin kabupaten berslogan ”Beriman” tersebut.

Perjalanan untuk melaksanakan program pembangunan pun berlangsung taktis dengan ditindaklanjuti peningkatan jalan poros desa yang menghubungkan pusat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

Seperti perbaikan jalan menuju objek wisata Jembangan, Kecamatan Poncowarno. Begitu pula jalan menuju Pantai Petanahan di Desa Karangreja dan Karanggadung. Masih dalam rangka peningkatan jalan poros desa, Pantai Menganti, di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah pun ditindaklanjuti dengan pembukaan objek wisata wana bahari tersebut, pada 23 Juli 2011 lalu.

Pantai berpasir putih yang terdapat di daerah pegunungan itu, menurut Ketua Centra Java Surfing Club (CJSC) Ahmad Faizun merupakan satu-satunya tempat terbaik di Jawa Tengah untuk kegiatan selancar (surfing). Sektor pariwisata yang dikembangkan tersebut salah satu cara untuk mendongkrak pendapatan daerah.

Dalam pelaksanaan APBD 2010, pendapatan asli daerah Rp 58.742.305.659. Ditambah pendapatan yang sah Rp 64.133.726.233. Selama ini, ternyata sebagian besar merupakan transfer dari pusat sebesar Rp 855.221.170.580 dan Rp 70.683.266.800 serta transfer dari provinsi Rp 29.624.781.239.

Optimistis Tercapai

Khusus untuk sektor pariwisata, realisasi pendapatan dari Januari hingga Juni 2011 yakni Rp 1.028.217.010. Padahal target yang dipatok kepada Pemkab mencapai 3,4 miliar, sehingga masih kurang 70 persen. Kendati tinggal beberapa bulan lagi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Drs Hery Setyanto mengaku optimistis bisa mencapai target hingga akhir tahun ini.

Dari perhitungannya, sepuluh hari selama Lebaran mendatang, pendapatan yag diperoleh diperkirakan Rp 1.050.000.000. Perhitungan itu mengacu data pengunjung tahun sebelumnya sebanyak 638.391 orang dengan pendapatan Rp 1.506.998.685. Sisanya sebesar Rp 1,5 miliar, akan terus digenjot selama tiga bulan dari Oktober hingga Desember.

Langkah yang diambil selanjutnya yakni dengan menerapkan kenaikan retribusi masuk objek wisata. Namun, untuk retribusi yang dinilai masih memberatkan masyarakat, diputuskan tetap, seperti Puskesmas dan pasar.

PRINT HALAMAN INI..!!
sumber: suaramerdeka.com (tulisan oleh: Arif Widodo)

Post a Comment

Silahkan Berkomentar yang Baik dan Bermanfaat!

Previous Post Next Post